Fai.umsida.ac.id – Lailatul Qadar, malam yang penuh kemuliaan dan kebaikan, menjadi waktu yang sangat dinantikan oleh umat Muslim di bulan Ramadan. Malam ini, sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits, dianggap lebih baik daripada seribu bulan. Namun, pertanyaannya, kapan tepatnya Lailatul Qadar itu terjadi?
Keistimewaan Lailatul Qadar dan Penjelasan dari Dosen PAI Umsida
Rahmad Salahuddin TP, S.Ag., M.Pd.I., dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), memberikan penjelasan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang istimewa, namun waktunya tidak ditentukan dengan pasti. Menurutnya, malam Lailatul Qadar datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. “Malaikat diperintahkan oleh Allah untuk turun ke bumi, menyaksikan umat mukmin berlomba-lomba dalam amalan kebaikan, khususnya shalat malam atau qiyamu Ramadan,” jelas Rahmad.
Pada malam-malam tersebut, umat Muslim diberi kesempatan untuk meraih keberkahan lebih dari seribu bulan. Inilah alasan mengapa umat Muslim dianjurkan untuk menggandakan ibadah di malam-malam akhir Ramadan.
Hadits Tentang Waktu Lailatul Qadar
Dari beberapa hadits yang ada, Rasulullah SAW tidak memberikan informasi pasti mengenai kapan Lailatul Qadar terjadi, namun beliau memberikan petunjuk waktu yang lebih umum. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik (HR. Ahmad no. 234 dan Muslim no. 1167), Rasulullah SAW bersabda: “Lailatul Qadar turun pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan. Barangsiapa bangun pada malam itu karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.”
Hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Aisyah RA (HR. Bukhari no. 2017 dan Muslim no. 1169) juga menjelaskan: “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” Sementara itu, hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA (HR. Bukhari no. 2015 dan Muslim no. 1165) menyebutkan bahwa Rasulullah melihat mimpi umat mengenai Lailatul Qadar yang bertepatan dengan tujuh malam terakhir bulan Ramadan.
Mengambil Hikmah dari Waktu Lailatul Qadar yang Tidak Ditetapkan Secara Pasti
Rahmad Salahuddin menjelaskan bahwa meski Rasulullah tidak memberikan waktu pasti, beliau menekankan pentingnya semangat dalam beribadah selama sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. “Dengan tidak ditentukannya waktu pasti, umat Muslim justru didorong untuk meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan. Ini adalah kesempatan terbaik untuk meraih taqwa,” ujar Rahmad.
Lailatul Qadar menjadi ujian bagi setiap Muslim untuk menjaga keteguhan dalam ibadah. “Barang siapa yang semakin kendor ibadahnya, maka predikat taqwa akan sulit didapatkan. Lailatul Qadar adalah ujian kelulusan bagi kita untuk mendapatkan sertifikat taqwa,” jelas Rahmad.
Melalui hadits-hadits ini, kita diingatkan untuk tidak hanya berharap pada satu malam yang istimewa, tetapi untuk memaksimalkan setiap malam di sepuluh hari terakhir Ramadan. Malam-malam tersebut merupakan puncak dari ibadah puasa, di mana umat Islam diberi kesempatan untuk meraih ampunan dan pahala yang besar.
Dengan semangat ini, umat Islam didorong untuk memperbaiki diri, meningkatkan amal ibadah, dan terus berusaha untuk meraih Lailatul Qadar, sebagai malam yang membawa kebaikan yang tak terhingga.
Lailatul Qadar, Malam yang Penuh Berkah
Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh keberkahan dan merupakan kesempatan emas untuk meraih ampunan dan pahala lebih dari seribu bulan. Meski waktunya tidak ditentukan dengan pasti, umat Muslim diingatkan untuk memperbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan. Melalui ibadah yang konsisten, semangat untuk meraih taqwa akan semakin kuat.
Baca Juga:
Semoga kita semua dapat meraih keberkahan Lailatul Qadar di bulan Ramadan ini, dan menjadi pribadi yang lebih baik serta lebih dekat dengan Allah SWT.
Penulis: AHW