Fai.umsida.ac.id –Ramadan tidak semestinya berhenti pada rutinitas menahan lapar dan dahaga, melainkan menjadi momentum membangun iman dan takwa yang berdampak pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Baca Juga: Hakikat Tauhid sebagai Asal dari Tawakal
Pesan itu disampaikan Dr. Eko Asmato, Lc., M.A., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Umsida sekaligus Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo, saat menjadi imam salat Isya dan Tarawih serta mengisi kultum pada Ahad, 22 Februari 2026, di Masjid Al Mahdi Perumtas 3 Grabagan, Tulangan, Sidoarjo, dalam kegiatan Takmir Masjid Al Mahdi bersama PRM Grabagan, sebagai penguatan ibadah Ramadan melalui penegasan tujuan puasa dan langkah praktis membangun ketakwaan.
Ramadan Bukan Sekadar Ritual Tahunan
Dalam kultum bertema Puasa Membawa Kebahagiaan Dunia dan Akhirat, Dr. Eko menekankan bahwa Ramadan adalah ruang pendidikan spiritual yang strategis. Ukuran keberhasilan Ramadan bukan sekadar padatnya agenda ibadah, tetapi berubahnya kualitas iman, akhlak, dan kedisiplinan setelah Ramadan berlalu.
Ia mengawali dengan membacakan Surah Al-Baqarah ayat 183: “Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.” Menurutnya, seruan “Yā ayyuhalladzīna āmanū” adalah panggilan kehormatan yang Allah khususkan bagi orang beriman.
“Seruan ‘Yā ayyuhalladzīna āmanū’ merupakan panggilan istimewa yang Allah khususkan bagi orang-orang beriman,” ujarnya. Karena itu, perintah puasa dipahami bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi amanah mulia untuk menaikkan derajat spiritual dan memperbaiki kualitas diri.
Dr. Eko juga menegaskan orientasi utama Ramadan berada pada tujuan puasa itu sendiri. “Tujuan akhir puasa adalah la‘allakum tattaqūn, agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Inilah orientasi utama Ramadan,” tegasnya. Dari sini, Ramadan menjadi titik balik: apakah puasa hanya menggugurkan kewajiban, atau benar-benar mengantar pada karakter takwa yang nyata.
Takwa Terlihat dari Disiplin hingga Kepedulian Sosial
Dalam penjelasannya, Dr. Eko menggarisbawahi bahwa takwa bukan konsep abstrak yang hanya dibicarakan, tetapi kualitas diri yang dapat dilihat dalam perilaku sehari-hari. Takwa tercermin pada kedisiplinan menjalankan kewajiban, kemampuan mengendalikan diri, kejujuran, serta kepedulian sosial.
Puasa, menurutnya, adalah latihan paling langsung untuk menahan hawa nafsu dan membangun kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi. Dari latihan ini lahir penguatan karakter: seseorang tidak mudah mengikuti dorongan emosi, lebih mampu menahan diri dari hal yang merusak, dan lebih peka terhadap keadaan orang lain.
Ia mengaitkan keberhasilan hidup dengan fondasi iman dan takwa. Dr. Eko menilai kebahagiaan yang sejati tidak bisa dilepaskan dari kualitas spiritual yang kokoh, sebab iman dan takwa menjadi penuntun dalam aspek sosial maupun profesional. “Seseorang ingin bahagia dan sukses, maka ia harus memiliki iman dan takwa. Ramadan adalah madrasah untuk membentuk itu,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus mengingatkan jamaah bahwa Ramadan seharusnya melahirkan perubahan yang konsisten, bukan perubahan sesaat. Jika Ramadan berjalan tetapi tidak meninggalkan pengaruh pada kebiasaan salat, kedekatan dengan Al-Qur’an, dan kepedulian sosial, maka ada yang perlu dievaluasi: apakah puasa benar-benar mengasah takwa, atau hanya menjadi rutinitas tanpa arah.
Tiga Fokus Ibadah untuk Memperkuat Ramadan
Untuk membuat orientasi takwa lebih konkret, Dr. Eko menguraikan tiga fokus ibadah yang perlu diintensifkan selama Ramadan. Pertama adalah memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Ramadan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an, sehingga wajar bila kedekatan dengan Al-Qur’an dinaikkan, tidak hanya membaca tetapi juga memahami dan mengamalkan.
“Dari pagi hingga malam, jangan lepas dari Al-Qur’an,” pesannya. Bagi jamaah, ini dapat diterjemahkan dalam target yang realistis: menjaga rutinitas tilawah harian, menyisihkan waktu untuk tadabbur, lalu membawa nilai-nilainya ke dalam akhlak.
Kedua adalah menjaga kualitas salat. Salat fardu diupayakan berjamaah dan diperkuat dengan salat sunah rawatib 12 rakaat, baik qabliyah maupun ba’diyah. Dr. Eko menekankan konsistensi salat sebagai indikator kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Ramadan, dalam konteks ini, menjadi latihan membangun disiplin waktu, kekhusyukan, dan keteraturan ibadah yang berkelanjutan.
Ketiga adalah memperbanyak zakat dan sedekah. Dr. Eko mengingatkan bahwa Rasulullah saw meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan. Selain menunaikan zakat, umat Islam dianjurkan memperbanyak sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial yang lahir dari iman yang kuat.
“Iman yang kuat harus berdampak pada kepedulian. Ramadan tidak hanya membangun hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga memperkuat hubungan horizontal dengan sesama,” jelasnya. Pesan ini menegaskan bahwa ketakwaan yang benar tidak berhenti pada ibadah personal, tetapi memancar pada sikap sosial: membantu, berbagi, dan tidak menutup mata terhadap kesulitan orang lain.
Baca Juga: Berpakaian Modis Tidak Dilarang dalam Islam
Rangkaian salat Isya, Tarawih, dan kultum berlangsung tertib dan khusyuk. Jamaah mengikuti setiap rangkaian dengan kesungguhan, mencerminkan semangat kolektif menjadikan Ramadan sebagai ruang transformasi diri. Di akhir tausiyah, Dr. Eko berharap jamaah dapat menjaga istiqamah dalam membaca Al-Qur’an, meningkatkan kualitas salat, dan memperbanyak sedekah, karena keberhasilan Ramadan pada akhirnya tampak dari perubahan iman dan akhlak setelahnya.
Sumber: PWMU.CO, “Kita Hanya Berpuasa atau Benar-Benar Bertakwa?” (23 Februari 2026).


























