Fai.umsida.ac.id – Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang sangat dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Tidak hanya sekadar sebuah perayaan besar setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadan, Idul Fitri memiliki makna yang dalam baik secara bahasa maupun secara spiritual. Umat Muslim dianjurkan memahami hakikat Idul Fitri yang sebenarnya agar dapat menjadikannya momentum transformasi menuju pribadi yang lebih baik dan dekat kepada Allah SWT.
Makna Idul Fitri secara Bahasa
Idul Fitri secara bahasa berasal dari dua kata dalam bahasa Arab, yaitu “Id” (عيد) yang berarti hari raya atau perayaan, dan “Fitri” yang berasal dari kata “Fithr” (فِطْر), yang artinya berbuka atau kembali makan setelah berpuasa sebulan penuh. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 187, yang menegaskan bahwa setelah sebulan penuh menjalani puasa dengan menahan makan dan minum, umat Muslim diperbolehkan kembali kepada pola makan normal setelah datangnya hari raya ini.
Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya Idul Fitri dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa umat Islam diperintahkan keluar dari rumah menuju tempat shalat Id untuk beribadah dan merayakan kemenangan bersama-sama, termasuk kaum wanita yang sedang haid sekalipun, agar turut merasakan suasana kegembiraan hari yang penuh berkah tersebut.
Makna Etimologi dan Spiritualitas Idul Fitri
Dari sisi etimologi, Idul Fitri memiliki arti kembali kepada fitrah manusia. Setelah menjalani proses tarbiyah ruhiyah selama Ramadan, umat Islam diharapkan kembali ke keadaan yang suci, murni, dan bersih seperti saat manusia dilahirkan. Al-Qur’an secara jelas menyebutkan hal ini dalam surat Ar-Rum ayat 30, bahwa setiap manusia diciptakan dalam keadaan fitrah—yakni cenderung kepada tauhid, kebenaran, dan kebaikan.
Hal ini sejalan dengan pandangan yang disampaikan oleh Ibnu Taymiyah mengenai fitrah manusia. Pertama, manusia secara alami memiliki kesadaran akan adanya Tuhan dan kecenderungan kepada tauhid. Kedua, setiap manusia lahir dengan dorongan alami untuk memilih kebaikan, kejujuran, kasih sayang, serta keadilan. Ketiga, manusia pada hakikatnya lahir bebas dari dosa asal dan baru bertanggung jawab atas dosa setelah mencapai usia baligh serta mampu membedakan baik dan buruk.
Namun demikian, Ibnu Taymiyah juga mengingatkan bahwa fitrah ini bisa rusak akibat pengaruh lingkungan, pendidikan yang salah, dan budaya negatif. Karenanya, Idul Fitri menjadi momentum penting dalam menjaga, memelihara, dan mengembalikan manusia kepada fitrahnya yang asli melalui berbagai bentuk ibadah dan introspeksi spiritual.
Refleksi dan Implementasi Makna Idul Fitri dalam Kehidupan Sehari-hari
Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Rahmad Salahuddin TP SAg MPdI, menjelaskan bahwa perayaan Idul Fitri bukanlah sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga sarana untuk memperbaiki diri secara kontinu. Setiap umat Islam diharapkan bisa memanfaatkan momen ini untuk mengevaluasi diri setelah menjalankan berbagai ibadah selama Ramadan, lalu mempertahankan nilai-nilai positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Rahmad menegaskan, “Idul Fitri adalah sebuah ujian kelulusan spiritual setelah melalui tarbiyah selama Ramadan. Setiap Muslim yang memahami hakikat Idul Fitri akan berusaha keras menjaga ketakwaan, keikhlasan, serta kemurnian jiwa yang telah dicapainya selama Ramadan.”
Beliau juga menambahkan bahwa semangat Idul Fitri harus tercermin dalam peningkatan kepedulian sosial, solidaritas, serta peningkatan kualitas akhlak pribadi dalam interaksi sehari-hari. Menjaga sikap santun, rendah hati, bersikap adil, dan kasih sayang terhadap sesama adalah bukti bahwa seseorang benar-benar kembali kepada fitrah, sebagaimana tujuan sejati dari Idul Fitri itu sendiri.
“Idul Fitri adalah kemenangan sejati bagi mereka yang mampu menjalankan ibadah Ramadan secara maksimal, menjaga diri dari perbuatan tercela, serta mengembalikan dirinya pada hakikat manusia sebagai hamba Allah yang selalu tunduk kepada-Nya,” pungkas Rahmad.
Dengan pemahaman ini, umat Islam, khususnya sivitas akademika FAI Umsida, diharapkan mampu menjadikan Idul Fitri sebagai momentum pembaharuan spiritual yang tidak hanya dirasakan pada hari raya semata, tetapi juga mampu memberikan dampak positif secara berkelanjutan dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat.