Fai.umsida.ac.id – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) kembali menjalankan program student mobility bersama Universitas Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Malaysia. Pelepasan peserta program ini dilaksanakan pada Kamis, 16 Januari 2026, bertempat di ruang rapat Kampus 1 Umsida.
Baca Juga: Perkuat Jejaring Antar-PTMA, Ma’had Umar bin Khattab UMSIDA Terima Benchmarking dari UMP
Acara tersebut menandai berakhirnya rangkaian perkuliahan internasional yang dijalani oleh enam mahasiswa UniSZA di Sidoarjo. Program ini sudah menjadi tradisi tahunan sebagai bentuk kerjasama yang mempererat hubungan antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam ranah akademik.
Pelepasan dihadiri oleh Wakil Dekan FAI Umsida, Dr. Anita Pujiastutik, M.Pd.I, bersama jajaran pimpinan fakultas dan program studi, serta peserta mobility. Dalam sambutannya, Dr. Anita menyampaikan betapa berkesannya pertemuan lintas budaya ini. “Program ini bukan hanya memberikan ilmu, tetapi juga mempererat persaudaraan antara mahasiswa Indonesia dan Malaysia. Semoga pengalaman ini bisa diaplikasikan dan menjadi bekal hidup,” ujar Dr. Anita.
Pengalaman Mendalam dari Mahasiswa UniSZA
Pada sesi kesan dan pesan, perwakilan mahasiswa UniSZA, Nabil, mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada dosen-dosen FAI Umsida. “Tidak hanya sebagai pengajar, dosen di sini juga menjadi sosok yang menguatkan kami saat jauh dari keluarga,” ungkap Nabil. Ia juga mengungkapkan betapa ikatan antara Indonesia dan Malaysia terasa semakin dekat berkat persamaan bahasa, iman, dan persaudaraan.
Nabil menutup sambutannya dengan pepatah Melayu yang penuh harapan, “Jika ada sumur di ladang, boleh kami menumpang mandi. Jika ada umur yang panjang, boleh kita berjumpa lagi.”
Program Rutin yang Memperkuat Kerja Sama Indonesia-Malaysia
Wakil Rektor II Umsida, Dr. Heri Widodo, M.Si, juga turut hadir dalam acara tersebut. Dalam sambutannya, Dr. Heri mengapresiasi pelaksanaan program student mobility ini. Menurutnya, program ini merupakan salah satu bukti nyata hubungan yang terus dijaga antara Indonesia dan Malaysia, serta harus menjadi agenda tahunan yang lebih kuat. Ia berharap program ini dapat diperluas tidak hanya untuk mahasiswa, tetapi juga dosen melalui kolaborasi akademik yang lebih beragam.
“Ke depan, kami akan terus mengevaluasi program ini agar lebih baik. Jika ada masukan dari peserta, kami akan jadikan bahan perbaikan untuk program selanjutnya,” ujarnya. Dr. Heri juga meminta maaf jika ada fasilitas yang kurang sesuai dengan ekspektasi peserta, namun berharap mahasiswa tetap membawa kesan baik dari pengalaman mereka di Umsida.
Pembelajaran Lintas Budaya yang Meninggalkan Kesan Positif
Program student mobility ini memberikan pengalaman yang berkesan bagi para peserta. Mahasiswa UniSZA, Haziq, menyampaikan kesan yang mendalam mengenai pembelajaran lintas budaya dan metode kuliah di Umsida. “Kami mendapatkan pendedahan antarabangsa dan pembelajaran merentas budaya yang sangat berharga. Meski Indonesia dan Malaysia serumpun, tetap ada perbedaan yang membuat pengalaman ini terasa bermakna,” ujarnya.
Haziq juga menekankan pentingnya keterampilan berbicara dan presentasi yang dipelajari selama di Umsida. Meskipun awalnya terasa berat, tugas presentasi yang diberikan dosen justru membuat mereka berkembang, dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Baca Juga: Siap Berangkat ke Aceh Tamiang, Ini 3 Deretan Proker Tim Bramasgana Umsida
Acara ditutup dengan penyerahan simbolis cinderamata oleh pimpinan fakultas kepada masing-masing mahasiswa UniSZA sebagai tanda penghargaan atas partisipasi mereka dalam program ini. Program student mobility ini diharapkan dapat terus menjadi jembatan bagi penguatan kerjasama akademik antara Indonesia dan Malaysia, serta sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri secara holistik.
Penulis: Romadhona S.


























