Fai.umsida.ac.id— Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Umsida Dr Anita Puji Astutik turun langsung mendampingi ibu-ibu Aisyiyah Sukodono pada Jumat siang (7/2/26) dalam kegiatan pengabdian masyarakat (Abdimas) yang didukung Hibah RisetMu Diktilibang PP Muhammadiyah Batch IX.
Baca Juga: Puluhan Tahun Mengabdi, Umsida Beri Penghargaan kepada Dosen dan Tendik di Milad ke-37
Kegiatan ini berfokus pada pemberian materi sekaligus praktik penggunaan aplikasi pembelajaran Al-Qur’an berbasis teknologi, sehingga peserta tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga mampu mengoperasikan fitur-fitur utama secara mandiri.
Abdimas Hibah RisetMu Dorong Literasi Digital Keagamaan
Kegiatan abdimas ini dirancang sebagai pendampingan yang relevan dengan kebutuhan jamaah dan komunitas belajar di tingkat ranting. Dengan memilih sasaran ibu-ibu Aisyiyah Sukodono, tim abdimas menempatkan penguatan literasi keagamaan berbasis teknologi pada kelompok yang selama ini menjadi penggerak majelis taklim, pengajian rutin, dan pembinaan keluarga.
Dalam sesi materi, Dr. Anita menekankan bahwa transformasi digital tidak harus menjauhkan masyarakat dari tradisi belajar Al-Qur’an yang sudah kuat. Justru, teknologi dapat diposisikan sebagai alat bantu agar proses belajar lebih terstruktur, terpantau, dan mudah diakses kapan pun. Fokusnya bukan “menggantikan guru ngaji”, melainkan memperluas akses latihan dan pengulangan materi di luar pertemuan tatap muka.
Materi Inti dan Praktik Langsung Mengoperasikan Aplikasi
Bagian praktik menjadi inti kegiatan Jumat siang itu. Peserta dipandu tahap demi tahap, mulai dari mengunduh aplikasi “ngaji.ai” melalui PlayStore atau AppStore, lalu menekan tombol “Mulai Sekarang” untuk memulai penggunaan. Setelah itu peserta diarahkan melakukan proses masuk (login) melalui beberapa opsi, seperti akun Google, Apple, atau email, dilanjutkan pengisian data diri seperti tanggal lahir dan jenis kelamin hingga proses aktivasi selesai.
Pendampingan juga mencakup pengenalan tampilan beranda (home) serta menu “Belajar” yang menjadi pusat pembelajaran. Pada menu ini, peserta dikenalkan pada dua jalur utama: Pra Tahsin yang terdiri dari 8 materi, serta Tahsin yang memuat 15 materi. Di dalamnya terdapat fitur ujian untuk masing-masing jalur, sehingga peserta dapat mengecek kemajuan belajarnya secara lebih terarah.
Agar peserta tidak berhenti pada tahap “tahu”, Dr. Anita mengarahkan praktik penggunaan fitur belajar secara teknis. Peserta mencoba menekan ikon suara untuk mendengarkan pelafalan, lalu melanjutkan ke tombol “Mulai Latihan” untuk mempraktikkan bacaan. Pola ini membuat pembelajaran tidak hanya satu arah, tetapi mendorong peserta aktif mengulang dan memperbaiki bacaan sesuai panduan audio yang tersedia.
Fitur Pendukung untuk Kebiasaan Ibadah Harian
Selain fitur inti belajar dan ujian, sesi praktik juga memperkenalkan fitur pendukung yang dinilai dekat dengan rutinitas ibu-ibu Aisyiyah. Di antaranya Kuis Harian untuk memantik konsistensi, Kumpulan Doa, serta Dzikir Pagi Petang dan Setelah Sholat. Peserta juga dikenalkan fitur Tadarus Al-Qur’an dan menu Iktiar yang berisi bacaan islami, sehingga aplikasi dapat digunakan bukan hanya saat sesi belajar tajwid, tetapi juga untuk menemani kebiasaan ibadah harian.
Pendekatan ini penting karena keberhasilan program abdimas tidak berhenti pada berlangsungnya pelatihan, melainkan pada perubahan kebiasaan setelah kegiatan selesai. Dengan memadukan materi, latihan, dan pengenalan fitur yang kontekstual, peserta diharapkan mampu membangun rutinitas belajar yang lebih konsisten, baik secara individu maupun dalam forum pengajian.
Melalui program Hibah RisetMu Diktilibang PP Muhammadiyah ini, FAI Umsida menegaskan perannya dalam mempertemukan penguatan keislaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin digital. Praktik lapangan bersama ibu-ibu Aisyiyah Sukodono pada Jumat siang menjadi contoh bahwa abdimas yang efektif adalah abdimas yang membuat peserta mampu mempraktikkan langsung, lalu membawa manfaatnya pulang ke rumah dan komunitas.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi

























