Fai.umsida.ac.id — Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FAI Umsida), Fitri, menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Indonesia Pencak Silat Paku Bumi Open 14th Championship 2026.
Baca Juga: Tertinggal Poin Tak Padamkan Semangat Ummu Hani Raih Juara di Paku Bumi Open 2026
Pada kejuaraan tersebut, Fitri berhasil meraih Juara 2 di kategori tanding dewasa putri Kelas B (50–55 kilogram).
Capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa FAI Umsida mampu berprestasi tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga dalam bidang olahraga. Bagi Fitri, medali perak yang diraih bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan buah dari proses latihan, pengorbanan waktu, dan kedisiplinan yang dijalani sejak awal.
“Alhamdulillah, pada kejuaraan tersebut saya berhasil meraih Juara 2 di nomor tanding dewasa putri Kelas B. Setelah hasil diumumkan, perasaan saya campur aduk, ada rasa bangga, bersyukur, dan lega karena semua proses latihan akhirnya terbayar,” ujarnya.
Fitri menambahkan, hasil itu juga menjadi pengingat bahwa dirinya masih memiliki ruang untuk berkembang. Ia menilai setiap pertandingan bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kemampuan agar bisa tampil lebih maksimal pada kesempatan berikutnya.
Tekuni pencak silat sejak kuliah
Fitri mengaku mulai menekuni pencak silat sejak masuk kuliah di Umsida. Awalnya, ia ingin mencoba aktivitas yang dapat melatih fisik sekaligus membentuk karakter. Dari situ, ia justru menemukan bahwa pencak silat bukan hanya olahraga, tetapi juga sarana belajar disiplin, fokus, dan pengendalian diri.
Ia mengatakan konsistensinya bertahan hingga sekarang didorong oleh keinginan untuk terus berkembang dan membuktikan bahwa mahasiswa juga dapat menorehkan prestasi di bidang nonakademik. Semangat itu pula yang membuatnya terus berlatih dan berproses hingga akhirnya mampu tampil pada ajang bergengsi tingkat internasional.
Menjelang keberangkatan ke Yogyakarta, Fitri mempersiapkan diri dari berbagai aspek. Dari sisi fisik, ia menjaga kebugaran tubuh agar tetap kuat dan stabil sesuai kelas tanding yang diikutinya. Dari sisi teknik, ia memperbanyak latihan yang mengarah pada kebutuhan pertandingan, mulai dari penguatan teknik dasar, pola serangan dan pertahanan, hingga simulasi situasi tanding.
Tidak hanya itu, kesiapan mental juga menjadi perhatian penting. Menurutnya, pertandingan bukan hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga menuntut ketenangan saat menghadapi tekanan di arena.
“Pertandingan itu bukan hanya soal kemampuan fisik, tapi juga bagaimana kita bisa tetap tenang saat menghadapi tekanan,” katanya.
Di tengah persiapan yang padat, Fitri juga berusaha menjaga keseimbangan antara latihan dan kuliah. Ia menyiasatinya dengan menyelesaikan tugas lebih awal, membagi jadwal belajar dan latihan, serta menjaga komitmen agar keduanya tetap berjalan beriringan.
Mental menjadi tantangan terbesar
Dalam proses menuju kejuaraan, Fitri mengaku tantangan terbesar justru datang dari sisi mental. Menjelang pertandingan, ia kerap menghadapi tekanan berupa ekspektasi, rasa takut melakukan kesalahan, hingga kegugupan saat membayangkan lawan-lawan yang kuat.
Untuk mengatasi itu, Fitri berusaha menata pikirannya agar tetap fokus pada proses, bukan hanya hasil. Ia memilih mempercayai latihan yang sudah dijalani sebagai modal utama untuk tetap tenang dan percaya diri.
Momen paling berkesan baginya adalah saat menyadari bahwa ia bisa tampil dalam event internasional seperti Paku Bumi Open 2026. Pengalaman tersebut menghadirkan rasa bangga sekaligus tidak menyangka, karena level pertandingan yang dihadapi berbeda dari kejuaraan biasa.
“Ada rasa tidak menyangka sekaligus bangga, karena ini pengalaman besar dan levelnya berbeda dari pertandingan biasa,” ungkapnya.
Dalam setiap pertandingan, Fitri merasakan ketegangan yang menuntut fokus tinggi. Ia harus benar-benar menjaga strategi, mengontrol emosi, dan menyesuaikan diri dengan ritme pertandingan. Hal itu menurutnya menjadi pelajaran berharga untuk membangun mental tanding yang lebih kuat di masa depan.
Perjalanan Fitri hingga meraih podium juga tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Ia menyebut pelatih memiliki peran besar dalam mengarahkan latihan, memperbaiki teknik, serta membentuk strategi pertandingan. Dukungan dari teman-teman latihan juga sangat berarti karena mereka saling menyemangati dan tumbuh bersama dalam proses yang sama.
Selain itu, keluarga menjadi sumber kekuatan moral yang tidak kalah penting. Doa dan dukungan dari rumah membuat Fitri merasa lebih mantap saat bertanding. Ia juga merasakan dukungan dari lingkungan kampus dan FAI Umsida yang menambah rasa percaya dirinya ketika membawa nama institusi di gelanggang.
Buktikan mahasiswa FAI mampu berprestasi
Bagi Fitri, kemenangan ini menjadi bukti bahwa proses yang dijalani sejak awal kuliah tidak sia-sia. Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi kebanggaan bagi FAI Umsida sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa FAI mampu berprestasi dalam berbagai bidang, termasuk olahraga.
Ia juga berharap pencapaiannya dapat menginspirasi mahasiswa lain agar tidak ragu mencoba hal baru dan berproses secara serius. Menurutnya, prestasi terbuka untuk siapa saja yang mau konsisten, berlatih, dan menjaga komitmen.
Nilai yang paling dijaga Fitri selama latihan dan bertanding adalah disiplin, sportivitas, dan tanggung jawab. Baginya, membawa identitas sebagai mahasiswa FAI Umsida bukan hanya soal meraih kemenangan, tetapi juga tentang menunjukkan karakter yang baik di dalam maupun di luar pertandingan.
Ke depan, Fitri menargetkan untuk terus meningkatkan kemampuan teknik dan mental bertanding agar dapat meraih hasil yang lebih baik pada event berikutnya. Ia pun membagikan pesan kepada mahasiswa Umsida agar berani memulai langkah kecil dan tidak takut berproses.
Baca Juga: Mahasiswi Umsida Raih Juara 1 Pencak Silat Pakubumi Open Championship 2026
“Jangan takut mencoba dan jangan takut berproses. Mulai dari langkah kecil, cari lingkungan yang mendukung, dan tetap disiplin. InsyaAllah, kalau prosesnya dijaga, hasilnya akan mengikuti,” tutupnya.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi























