Fai.umsida.ac.id-Ramadhan, bulan yang penuh berkah, memiliki kedinamikan yang luar biasa dalam peredarannya di kalender Hijriah.
Baca Juga: Kitab Falak Abad ke-19 Presisi Tentukan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026
Menurut sistem lunar yang digunakan dalam kalender Hijriah, setiap tahun awal Ramadan akan bergeser sekitar 10 hingga 12 hari lebih awal dibandingkan kalender Masehi. Hal ini disebabkan oleh perbedaan sistem perhitungan waktu yang mendasarkan tahun Hijriah pada peredaran bulan, bukan matahari.
Berdasarkan Kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang ditetapkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pergeseran Ramadan ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga tahun 2057 M, dengan pola yang kembali ke posisi semula dalam siklus 33 tahun. Dengan demikian, selama satu siklus tersebut, umat Islam akan merasakan pengalaman ibadah puasa di berbagai musim, mulai dari musim hujan, kemarau, hingga di belahan dunia yang mengalami musim dingin, semi, panas, dan gugur.
Dinamika Ramadan dan Kesatuan Umat Islam di Seluruh Dunia
Keindahan dari pergeseran waktu Ramadan ini menunjukkan bagaimana kalender Hijriah memiliki daya tarik tersendiri. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa di waktu yang berbeda-beda. Siklus ini memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk merasakan ibadah Ramadan dalam berbagai kondisi alam, dari panasnya musim kemarau hingga dinginnya musim salju di belahan bumi lainnya.
Bagi umat Islam, Ramadan bukan hanya sekedar ibadah rutin tahunan, melainkan juga sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan memperdalam spiritualitas. Dengan bergesernya Ramadan ke musim yang berbeda, hal ini juga membawa umat Islam untuk merasakan dan menghargai keberagaman kondisi lingkungan yang ada di sekitar mereka. Hal ini memperkuat kesatuan umat Islam di seluruh dunia, meskipun mereka berada di berbagai belahan dunia dengan waktu yang berbeda-beda.
Refleksi dan Peningkatan Iman
Melalui pemahaman tentang siklus Ramadan yang terus bergerak ini, diharapkan umat Islam dapat semakin menyadari bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah semata, melainkan juga tentang refleksi diri, peningkatan kualitas iman, serta keikhlasan dalam beramal. Setiap pergantian musim memberikan kesempatan bagi umat untuk menyambut bulan suci ini dengan penuh semangat dan keberkahan, serta menjadikannya sebagai waktu yang tepat untuk memperbaiki diri.
Baca Juga:Pendidikan Islam Berkemajuan Jadi Topik Kajian Ramadan Umsida 1447 H
Dengan demikian, pemahaman tentang siklus Ramadan yang dinamis ini menjadi lebih dari sekadar pengetahuan tentang pergeseran waktu. Lebih jauh lagi, ini adalah bagian dari upaya umat Islam untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik secara spiritual maupun sosial, dalam menyambut bulan penuh ampunan ini. Semoga setiap Ramadan menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di seluruh dunia. ✨
Sumber: FAI UMM & PP Muhammadiyah


























