Fai.umsida.ac.id- Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) bersama KKG PAI menggelar Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka pada Rabu, 15 April 2026, di Aula KH Mas Mansyur, GKB 2 lantai 7, Kampus 1 Umsida.
Baca Juga: IMM FAI Umsida Gelar RTL Intelektualitas untuk Perkuat Kader yang Progresif
Kegiatan ini menjadi ruang penguatan pemahaman bagi para guru PAI sekolah dasar agar tidak hanya mengenal perubahan kebijakan, tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam praktik pembelajaran yang lebih relevan, aktif, dan berdampak bagi peserta didik.
Dalam workshop tersebut, Wakil Dekan FAI Umsida Dr Anita Puji Astutik MPdI, menyoroti bahwa Kurikulum Merdeka tidak bisa dipahami hanya sebagai perubahan administratif. Menurutnya, guru perlu memahami latar belakang lahirnya kebijakan itu agar implementasinya tidak berhenti pada dokumen, melainkan menyentuh strategi mengajar di kelas. Ia menjelaskan bahwa kemunculan Kurikulum Merdeka berkaitan erat dengan kondisi loss learning pascapandemi yang membuat capaian pembelajaran peserta didik di berbagai lembaga menjadi tidak sama, sehingga dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel dan berdiferensiasi.
Kurikulum Merdeka lahir dari kebutuhan nyata di lapangan
Dalam pemaparannya, Anita menegaskan bahwa perubahan kurikulum harus dibaca sebagai respons terhadap kebutuhan zaman dan kondisi riil pendidikan. Ia mengingatkan bahwa pada awal penerapannya pada 2022, pemerintah tidak langsung mewajibkan seluruh sekolah beralih penuh ke Kurikulum Merdeka.
Saat itu, sekolah diberi beberapa pilihan, mulai dari menjadi sekolah penggerak, mengombinasikan Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum 2013, hingga tetap menggunakan Kurikulum 2013 sambil mempersiapkan diri untuk transisi. Penjelasan ini penting karena banyak guru masih memandang perubahan kurikulum semata-mata sebagai pergantian kebijakan, bukan sebagai penyesuaian terhadap kebutuhan belajar siswa.
Anita juga menekankan bahwa kesiapan sekolah tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya lembaga atau kelengkapan fasilitas. Menurutnya, sekolah yang kecil pun dapat bergerak maju apabila memiliki komitmen kuat untuk menjalankan perubahan. Ia memberi penekanan bahwa pembelajaran yang baik tidak selalu bergantung pada sarana yang mahal, sebab guru tetap dapat memanfaatkan lingkungan sekitar dan bahan-bahan sederhana untuk mendukung proses belajar. Dari sudut pandang ini, workshop menjadi penting karena menggeser fokus guru dari kekhawatiran administratif menuju keberanian berinovasi dalam mengajar.
Dari kebijakan menuju pembelajaran mendalam
Salah satu poin utama yang ditekankan Wakil Dekan FAI Umsida ialah bahwa arah pendidikan saat ini bukan sekadar menjalankan Kurikulum Merdeka sebagai dokumen formal, melainkan memperkuatnya melalui pendekatan pembelajaran mendalam. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam bukanlah kurikulum baru, tetapi pendekatan untuk menyempurnakan hasil pembelajaran dari kurikulum yang sedang berjalan. Karena itu, guru PAI dituntut tidak berhenti pada penyusunan perangkat ajar, tetapi juga memahami bagaimana menghadirkan pengalaman belajar yang benar-benar bermakna bagi siswa.
Ia bahkan mengingatkan bahwa guru PAI tidak boleh membiarkan pembelajaran terasa kaku dan membosankan. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya menyusun modul ajar, tetapi memodifikasi pembelajaran agar anak-anak tetap semangat dan mudah mengingat materi yang dipelajari. Penekanan ini menunjukkan bahwa workshop tidak diarahkan pada pembahasan konsep semata, melainkan pada strategi mengajar yang lebih hidup, komunikatif, dan sesuai dengan karakter peserta didik sekolah dasar.
Dalam konteks itulah, materi workshop juga mengarah pada pengecekan kembali kualitas modul ajar serta kecocokannya dengan komponen minimal pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Arah pembahasannya jelas: guru PAI perlu melakukan refresh atas praktik mengajar mereka, bukan sekadar mengikuti istilah-istilah baru dalam kebijakan pendidikan.
Kolaborasi kampus dan komunitas guru perkuat profesionalisme
Kegiatan ini memperlihatkan peran FAI Umsida sebagai mitra akademik bagi komunitas guru, khususnya dalam menjembatani kebijakan pendidikan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Kolaborasi bersama KKG PAI memberi pesan bahwa peningkatan mutu pembelajaran agama tidak dapat dilakukan secara parsial. Kampus menyediakan perspektif akademik, sementara guru membawa pengalaman praktis kelas yang menjadi bahan refleksi bersama.
Pesan lain yang cukup kuat dari pemaparan Anita adalah pentingnya menjaga profesionalisme guru melalui penguatan kompetensi secara berkelanjutan. Bagi guru PAI, profesionalisme tidak hanya ditunjukkan dengan sertifikasi atau pengalaman mengajar, tetapi juga dengan kemauan untuk terus belajar, memperbarui pendekatan, dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan generasi saat ini. Karena itu, workshop ini tidak hanya menjadi forum penyegaran pengetahuan, tetapi juga ajakan untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat di kalangan guru.
Sebagai penunjang pembelajaran yang lebih aplikatif, materi presentasi juga memuat rujukan praktis berupa kumpulan video pembelajaran PAI SD yang dapat dimanfaatkan sebagai inspirasi pengembangan strategi ajar di kelas. Kehadiran bahan semacam ini menegaskan bahwa workshop diarahkan untuk memberi bekal konkret, bukan sekadar teori.
Baca Juga: Abdimas Umsida Ajarkan Cara Mengelola Stres untuk Capai Target Belajar di MSU Malaysia
Melalui workshop ini, FAI Umsida menegaskan komitmennya dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka yang lebih substantif. Penjelasan Wakil Dekan FAI Umsida menjadi pengingat bahwa inti perubahan kurikulum bukan terletak pada istilah barunya, melainkan pada sejauh mana guru mampu menghadirkan pembelajaran PAI yang lebih mendalam, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik masa kini.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi
























