Fai.umsida.ac.id – Semangat disiplin dan keteguhan berproses ditunjukkan Anggra Surya Prakasa, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (PAI FAI Umsida), saat menyumbang medali perak bagi Tapak Suci Umsida.
Baca Juga: Dari Kampus ke Arena Yuhsin Amali Buktikan Latihan Konsisten Berbuah Prestasi
Ia meraih Juara 2 kategori dewasa pada kejuaraan pencak silat yang digelar FIKK UNESA di Surabaya, sekaligus ikut mengantar kontingen menjadi Juara Umum 1 dengan total torehan 30 medali dari 30 atlet yang diberangkatkan. Capaian ini tidak lepas dari latihan intensif, manajemen waktu di tengah kuliah dan pekerjaan, serta dukungan fasilitas kampus selama kompetisi berlangsung.
Perak yang Menguatkan Juara Umum 1
Kejuaraan pencak silat yang digelar FIKK UNESA menjadi panggung persaingan ketat bagi atlet dari berbagai perguruan. Tapak Suci Umsida tampil solid sejak babak awal hingga pengumuman akhir, menjaga konsistensi performa di tiap kategori yang diikuti. Di tengah dinamika pertandingan, Anggra menjadi salah satu penyumbang poin penting melalui raihan perak pada kategori dewasa.
“Alhamdulillah Tapak Suci Umsida mendapatkan juara umum 1, dan saya pribadi mendapatkan juara 2 kategori dewasa,” ungkap Anggra. Bagi mahasiswa yang akrab disapa Anggra itu, kabar terbaik bukan hanya tentang medali individu, melainkan momen ketika nama Tapak Suci Umsida diumumkan sebagai yang terbaik secara keseluruhan.
“Momen yang paling bikin haru itu ketika pengumuman juara umum 1 diraih oleh Tapak Suci Umsida,” ujarnya. Ia menilai capaian tim menunjukkan bahwa kerja kolektif, ketenangan bertanding, dan sikap saling menguatkan menjadi faktor penting yang tidak selalu terlihat dari luar, tetapi menentukan hasil akhir di arena.
Menariknya, Anggra menyebut sejak awal tim tidak membebani diri dengan target menang di setiap partai. Fokus utama justru memastikan seluruh atlet tampil maksimal dan menjunjung sportivitas. “Di Tapak Suci Umsida tidak ada prediksi harus menang semua. Target kami bertanding maksimal, urusan kalah dan menang itu urusan belakangan,” katanya. Cara pandang ini membuat atlet lebih terukur dalam mengelola tekanan, sekaligus menjaga adab bertanding yang sejalan dengan nilai pembinaan di organisasi pencak silat.
Latihan Harian Dua Bulan di Tengah Kuliah dan Kerja
Di balik medali perak yang diraih, ada fase persiapan yang panjang dan menuntut ketekunan. Anggra menyebut latihan dijalani secara intensif untuk mematangkan fisik dan teknik, terutama menjelang hari pertandingan. “Untuk persiapan saya berlatih setiap hari selama dua bulan,” jelas mahasiswa kelahiran Gresik, 7 September 2007 tersebut.
Intensitas latihan yang tinggi menjadi ujian tersendiri karena ia harus membagi waktu dengan kewajiban akademik dan pekerjaan. Anggra bekerja di pabrik, sementara perkuliahan tetap berjalan dengan ritme tugas dan agenda kampus. Dalam situasi seperti ini, kemampuan manajemen waktu menjadi keterampilan utama yang menentukan keberlanjutan proses.
“Tantangan yang saya alami adalah saya harus bisa mengatur waktu karena saya juga bekerja di pabrik, terus kuliah dan latihan. Jadi saya harus pintar mengatur waktu,” ungkapnya. Ia menilai prestasi tidak datang dari momentum sesaat, tetapi dari keputusan harian untuk tetap hadir di latihan, menjaga pola hidup, dan memelihara fokus meski energi terbagi.
Selain aktif sebagai atlet, Anggra juga terlibat dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Aktivitas organisasi ini, menurutnya, ikut membentuk karakter disiplin, daya tahan mental, dan tanggung jawab terhadap peran yang dijalani. Kombinasi antara latihan bela diri, kultur organisasi, serta pendidikan di PAI FAI Umsida memperkaya proses pembentukan karakter, terutama dalam hal keteguhan, pengendalian diri, dan komitmen pada target.
Dukungan Kampus dan Misi Menuju Paku Bumi
Anggra menegaskan bahwa capaian ini tidak berdiri sendiri. Dukungan orang tua menjadi sumber penguatan yang membuatnya mantap berangkat dan menjalani rangkaian pertandingan. “Orang tua sangat mendukung ketika saya mau berangkat lomba dan mereka sangat men-support saya,” tuturnya.
Dukungan dari Umsida juga ia rasakan secara nyata melalui fasilitas selama kejuaraan berlangsung. Kampus membantu memastikan kebutuhan dasar atlet terpenuhi sehingga fokus bisa diarahkan pada performa di gelanggang. “Umsida sangat mendukung kami para atlet karena sudah memfasilitasi semuanya, seperti penginapan, biaya lomba, dan makanan sehari-hari selama lomba,” jelas Anggra.
Dengan hasil ini, Tapak Suci Umsida tidak berhenti pada selebrasi. Tim masih menyiapkan agenda kompetisi berikutnya sebagai ruang uji kemampuan dan penguatan mental tanding. Anggra menyebut salah satu event yang akan dihadapi adalah Paku Bumi di Yogyakarta. Persiapan lanjutan menjadi penting agar performa tetap stabil, sekaligus memperluas pengalaman bertanding di tingkat yang lebih menantang.
Baca Juga: Debut di UPSCC III Unesa, Mahasiswa FAI Ini Langsung Sabet Emas
Bagi Anggra, medali perak bukan penutup, melainkan penanda bahwa proses yang konsisten akan selalu meninggalkan hasil. Di sisi lain, prestasi ini juga mengirim pesan kuat bagi mahasiswa FAI Umsida bahwa kesibukan akademik, pekerjaan, dan organisasi tetap dapat berjalan beriringan jika disiplin dan prioritas dibangun dengan serius
Editor: Akhmad Hasbul Wafi

























