Fai.umsida.ac.id—Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Umsida, Ainun Nadlif, MAg, melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat (Abdimas) program RisetMu bersama ibu-ibu Aisyiyah tingkat ranting dan cabang Ketegan di Masjid Burhanudin, Ketegan, pada Sabtu, 14 Februari 2026. Kegiatan yang dimulai siang hari itu difokuskan pada penguatan pemahaman dan praktik salat Magrib, baik berjamaah maupun munfarid (sendiri), merujuk tuntunan HPT (Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah), agar pelaksanaan ibadah warga persyarikatan semakin seragam, tertib bacaan, dan tepat gerakan.
Ainun Nadlif yang juga aktif di Majelis Tabligh PDM Sidoarjo mengarahkan sesi pendampingan dengan pola “teori singkat, praktik langsung, lalu dokumentasi” supaya peserta bukan hanya memahami konsep, tetapi mampu menirukan bacaan dan gerakan secara utuh. Dalam pelaksanaannya, kegiatan berlangsung sejak sekitar pukul 12.30 WIB hingga selesai pada 14.15 WIB, dengan titik tekan pada ketelitian bacaan, ketepatan rukun, dan adab berjamaah sebagaimana pedoman tarjih.
Penguatan Salat Berbasis Tuntunan Tarjih
Abdimas ini menempatkan salat sebagai fondasi pembinaan ibadah harian. Karena itu, sesi pembukaan diarahkan untuk membangun pemahaman yang sama tentang pentingnya mengikuti tuntunan persyarikatan, terutama ketika praktik di lapangan sering kali berbeda-beda antarjamaah.
Pada bagian awal, Ainun memberikan prolog sekaligus penguatan tentang bacaan dan gerakan salat. Penekanan diberikan pada aspek yang kerap luput: ketertiban rukun, kesesuaian bacaan pada tempatnya, serta pemahaman praktik salat Magrib dalam dua situasi, yaitu saat berjamaah dan saat salat sendiri. Pola ini membuat peserta tidak berhenti pada “tahu”, tetapi bergerak menuju “bisa mempraktikkan” dengan pendampingan.
Kegiatan ini juga menjadi ruang literasi tarjih yang aplikatif. Alih-alih membahas konsep panjang, Ainun mengarahkan peserta pada penyesuaian-penyesuaian praktis yang dibutuhkan agar ibadah salat lebih mantap, lebih sahih, dan tidak sekadar mengikuti kebiasaan yang belum tentu tepat rujukannya.
Praktik Klasikal dan Peragaan Bacaan Lengkap
Setelah penguatan awal, sesi inti dimulai pukul 13.00 WIB. Pada tahap ini peserta mengikuti penampilan klasikal, yakni semua peserta memperagakan bacaan salat lengkap disertai gerakannya secara bersama-sama. Metode klasikal dipilih karena efektif untuk mengoreksi kekeliruan yang muncul secara umum, sekaligus membentuk keberanian peserta untuk mempraktikkan ibadah secara terbuka sehingga mudah dievaluasi.
Dalam sesi ini, pendampingan dilakukan dengan menata alur praktik dari takbiratul ihram, bacaan-bacaan pokok, ruku, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, hingga tasyahud dan salam. Setiap bagian dipastikan mengalir tanpa putus, karena salah satu masalah paling sering dalam praktik salat adalah bacaan yang tidak utuh atau gerakan yang terlalu cepat sehingga mengganggu tumakninah.
Dengan format “semua mempraktikkan”, kegiatan juga memotong jarak antara pemateri dan peserta. Peserta tidak ditempatkan sebagai pendengar pasif, melainkan sebagai pelaku yang langsung membangun kebiasaan baru. Pada titik ini, Abdimas bukan hanya penyuluhan, tetapi pembinaan keterampilan ibadah.
Produksi Video sebagai Media Belajar Ulang
Pada pukul 13.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan video salat beserta bacaannya. Bagian ini penting karena pembinaan ibadah akan lebih kuat bila peserta memiliki media untuk mengulang secara mandiri setelah kegiatan selesai. Video juga membantu penyamaan persepsi di lingkungan ranting dan cabang, karena dapat diputar kembali saat kajian, arisan, atau forum pembinaan internal Aisyiyah.
Pendekatan dokumentasi ini menunjukkan arah Abdimas yang praktis dan berorientasi hasil. Jika pelatihan berhenti di tempat, dampaknya sering cepat memudar. Namun dengan adanya rekaman video, peserta memiliki “panduan ulang” yang dapat dipakai kapan saja, termasuk untuk menularkan pengetahuan kepada keluarga dan jamaah di lingkungan masing-masing.
Rangkaian kegiatan berakhir pukul 14.15 WIB. Pelaksana berharap kegiatan berjalan lancar serta membawa keberkahan, bukan hanya bagi peserta, tetapi juga bagi penguatan pembinaan ibadah warga persyarikatan di Ketegan. Melalui Abdimas RisetMu ini, FAI Umsida menegaskan perannya sebagai mitra pembinaan umat—menghadirkan pendampingan yang sederhana, langsung bisa dipraktikkan, dan selaras dengan rujukan resmi tarjih Muhammadiyah.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi

























