Fai.umsida.ac.id— Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Averroes menggelar Kajian Ramadan 1447 H pada Sabtu, 7 Maret 2026, ba’da Ashar pukul 15.30 WIB di Masjid Al-Ikhlas, Graha Regency Sidoarjo.
Baca Juga: Komisariat Averroes FAI Umsida Semarakkan Milad IMM ke 62
Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Drs. Thohari Hamzah dengan tema Menguatkan Iman di Tengah Ujian Kehidupan sebagai upaya meneguhkan spiritualitas umat Islam selama bulan suci Ramadan.
Kajian ini menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperkuat iman, memperdalam ketakwaan, dan memperbaiki kualitas diri. Dalam penyampaian materi, dijelaskan bahwa Ramadan memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah sehingga menjadi kesempatan besar bagi setiap Muslim untuk memperbanyak amal saleh.
“Ramadan adalah bulan yang sangat mulia. Setiap aktivitas seorang muslim bisa bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan diridhai Allah,” ujar Ustadz Drs. Thohari Hamzah dalam kajian tersebut.
Ramadan sebagai Momentum Memperkuat Keimanan
Dalam kajian itu dijelaskan bahwa puasa Ramadan tidak hanya menuntut identitas keislaman, tetapi juga kekuatan iman. Hal ini merujuk pada seruan Al-Qur’an yang ditujukan kepada orang-orang beriman untuk menjalankan ibadah puasa. Pesan tersebut menunjukkan bahwa puasa bukan hanya kewajiban formal, melainkan ibadah yang memerlukan kesadaran batin, keikhlasan, dan keyakinan yang kuat.
Menurut pemateri, seseorang bisa saja berstatus Muslim, tetapi jika imannya lemah, maka ibadah puasa akan terasa berat dijalankan secara sungguh-sungguh. Karena itu, iman menjadi fondasi utama agar seseorang mampu menjalankan puasa dengan penuh kesadaran spiritual, bukan sekadar rutinitas tahunan.
“Yang dipanggil Allah dalam kewajiban puasa adalah orang-orang yang beriman. Artinya, iman menjadi kekuatan utama agar puasa dijalankan dengan kesadaran dan keikhlasan,” jelasnya.
Selain iman, kajian tersebut juga menggarisbawahi pentingnya ketakwaan. Puasa mengajarkan kejujuran, sebab hanya Allah yang benar-benar mengetahui apakah seseorang berpuasa dengan sungguh-sungguh atau tidak. Dari sinilah puasa menjadi latihan moral sekaligus latihan spiritual bagi setiap Muslim.
Puasa Bukan Hanya Mencari Pahala
Ustadz Thohari juga menjelaskan bahwa tujuan utama puasa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Karena itu, orientasi puasa tidak boleh berhenti pada keinginan memperoleh pahala semata, meski pahala tetap menjadi bagian dari keutamaan Ramadan.
Dalam praktiknya, masih banyak orang yang berpuasa dengan target memperbanyak amalan seperti membaca Al-Qur’an, salat malam, atau ibadah sunnah lainnya, tetapi belum menjadikan ketakwaan sebagai sasaran utama. Padahal, jika puasa hanya dipahami sebagai aktivitas ritual tanpa perubahan sikap dan kualitas iman, maka esensi Ramadan bisa saja tidak tercapai.
“Allah mewajibkan puasa agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa. Jadi, puasa bukan hanya soal pahala, tetapi soal perubahan diri dan penguatan hubungan dengan Allah,” tegasnya.
Penekanan ini menjadi penting karena ketakwaan merupakan hasil yang diharapkan dari ibadah puasa. Ketika seseorang berhasil membangun ketakwaan, maka Ramadan tidak hanya menjadi momen ibadah musiman, tetapi benar-benar menjadi sarana pendidikan spiritual yang membekas dalam kehidupan sehari-hari.
IMM Averroes Hadirkan Kajian yang Relevan bagi Kehidupan
Melalui tema Menguatkan Iman di Tengah Ujian Kehidupan, IMM Averroes ingin menghadirkan kajian yang dekat dengan realitas umat, khususnya generasi muda yang kerap menghadapi berbagai tantangan hidup, baik dalam aspek akademik, sosial, maupun spiritual. Ramadan diposisikan sebagai waktu terbaik untuk membangun ketenangan hati sekaligus memperkuat komitmen keagamaan.
Pesan utama dari kajian ini adalah bahwa ujian hidup tidak cukup dihadapi dengan kekuatan fisik atau logika semata, tetapi juga dengan iman yang kokoh dan ketakwaan yang terus dipupuk. Ramadan menjadi ruang latihan untuk menata hati, meluruskan niat, dan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap ibadah memiliki tujuan pembentukan karakter.
Dengan terselenggaranya Kajian Ramadan 1447 H ini, IMM Averroes menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ruang-ruang pembinaan keislaman yang relevan, mendalam, dan membangun.
Baca Juga:Buka Puasa Tanpa Kalap, Ini Cara Berbuka Puasa yang Sehat dan Tidak Membebani Tubuh
Melalui kajian tersebut, jamaah diajak memahami bahwa puasa bukan hanya kewajiban tahunan, melainkan jalan untuk menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih taat, dan lebih siap menghadapi ujian kehidupan dengan iman yang kuat.
Penulis: Rania Nur Afifah
Editor: Akhmad Hasbul Wafi

























