Mengapa 10 Hari Terakhir Ramadan Menjadi Momentum Terbaik untuk Beribadah

Fai.umsida.ac.id – Sepuluh hari terakhir Ramadan merupakan fase penting yang semestinya dimanfaatkan umat Islam untuk melakukan evaluasi diri atas kualitas puasa yang telah dijalani.

Baca Juga: Berkah Ramadan, Mahasiswa FAI Umsida Juara 1 Tahfidz Internasional 30 Juz

Pada fase inilah seorang muslim diajak menilai sejauh mana ibadah Ramadan benar-benar membentuk pribadi yang bertakwa, bukan hanya dalam hubungan dengan Allah, tetapi juga dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Ketakwaan tidak cukup diukur dari baiknya ibadah mahdhah semata, seperti salat, puasa, atau tilawah. Lebih dari itu, ketakwaan juga tampak dalam cara seseorang menjaga amanah, menghargai waktu, membangun relasi sosial yang sehat, dan menempatkan diri dengan rendah hati di tengah kehidupan. Karena itu, sepuluh hari terakhir Ramadan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai penutup bulan suci, melainkan sebagai penentu kualitas ibadah secara keseluruhan.

Salah satu ciri orang bertakwa ialah mampu menjaga waktu salat dengan baik, disiplin dalam pekerjaan, serta menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan. Orang yang bertakwa juga tidak mudah menyia-nyiakan waktunya untuk aktivitas yang tidak memberi nilai kebaikan. Sikap ini menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya membentuk kesalehan ritual, tetapi juga menumbuhkan etos hidup yang tertib dan bertanggung jawab.

Selain itu, ketakwaan juga tercermin dalam sifat tawadhu’ dan tawakal. Orang yang tawadhu’ menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah Swt, sehingga tidak mudah merasa paling hebat karena jabatan, prestasi, atau kedudukan tertentu. Jabatan dipahami sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena itu, seseorang yang bertakwa tidak menggunakan kekuasaan untuk menzalimi orang lain atau bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya.

Begitu pula dengan tawakal. Orang yang benar-benar bertawakal bukanlah mereka yang sibuk mengejar jabatan dengan penuh ambisi, melainkan mereka yang siap menerima amanah dan menjalankannya secara sungguh-sungguh ketika tanggung jawab itu diberikan. Amanah diterima sebagai bentuk kepercayaan yang harus dijaga sebaik mungkin sesuai kapasitas yang dimiliki.

Menyempurnakan Ramadan di Penghujung Bulan

Sepuluh hari terakhir Ramadan menjadi waktu yang sangat tepat untuk melakukan muhasabah. Jika pada awal Ramadan seseorang merasa belum maksimal dalam ibadah, maka bagian akhir bulan suci ini masih membuka ruang besar untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas pengabdian kepada Allah.

Para ulama mengingatkan melalui kaidah:

اَلْعِبْرَةُ بِكَمَالِ النِّهَايَاتِ لَا بِنَقْصِ الْبِدَايَاتِ

Artinya, yang menjadi ukuran adalah kesempurnaan pada akhir, bukan kekurangan pada awal.

Kaidah ini menunjukkan bahwa keberhasilan Ramadan tidak hanya ditentukan oleh bagaimana seseorang memulainya, tetapi juga bagaimana ia menutupnya. Karena itu, siapa pun masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki capaian ibadahnya di penghujung Ramadan, selama ia mau melakukan evaluasi dan meningkatkan kesungguhan.

Lailatul Qadar dan Kemuliaan Sepuluh Malam Terakhir

Salah satu alasan utama mengapa sepuluh hari terakhir Ramadan sangat istimewa adalah adanya malam Lailatul Qadar. Al-Qur’an menyebut malam ini sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya, malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3).

Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh kemuliaan, karena pada malam itu Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia. Setiap ibadah dan amal kebaikan yang dilakukan bertepatan dengan malam tersebut memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, doa, zikir, dan amal saleh pada malam-malam terakhir Ramadan.

Anjuran untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir juga ditegaskan dalam hadis Rasulullah Saw:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya, carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa penghujung Ramadan bukan masa untuk mulai menurun dalam ibadah, tetapi justru saat untuk semakin bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah.

Puncak Waktu Memohon Ampunan

Keutamaan lain dari sepuluh hari terakhir Ramadan ialah besarnya peluang untuk meraih ampunan Allah Swt. Ramadan memang dikenal sebagai bulan penuh ampunan, tetapi pada sepuluh hari terakhir, suasana spiritual itu mencapai puncaknya. Inilah masa ketika seorang mukmin sangat dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, qiyamul lail, dan doa, dengan harapan memperoleh pengampunan dan dibebaskan dari api neraka.

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَّدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya, barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: Bisnis Tukar Uang Saat Lebaran Jadi Ide Perdagangan

Karena itu, sepuluh hari terakhir Ramadan seharusnya tidak dilewati secara biasa. Fase ini adalah kesempatan besar bagi setiap muslim untuk menyempurnakan ibadah, memperbaiki akhlak, memperkuat hubungan sosial, dan memohon ampunan Allah dengan sungguh-sungguh. Jika dimanfaatkan dengan baik, penghujung Ramadan dapat menjadi titik balik lahirnya pribadi yang lebih taat, lebih rendah hati, dan lebih siap membawa nilai-nilai takwa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Rahmad Salahuddin TP SAg MPdI

Berita Terkini

Beasiswa Menarik di FAI Umsida, KKG PAI Pasuruan Jajaki Kerja Sama Pendidikan
April 29, 2026By
Kerjasama FAI Umsida dan KKG PAI Sidoarjo Buka Kesempatan Beasiswa S1 dan S2 MPI
April 28, 2026By
4 Dosen FAI Umsida Lolos Pendanaan Kemendiktisaintek 2026
April 27, 2026By
Sapa Immawati IMM FAI Umsida Satukan Ukhuwah dan Kebersamaan
April 24, 2026By
Wakil Dekan FAI Umsida Tekankan Makna Kurikulum Merdeka bagi Guru PAI
April 23, 2026By
HIMA PAI Umsida Tanamkan Kepedulian Lingkungan di SDN Banjarpanji
April 22, 2026By
IMM FAI Umsida Gelar RTL Intelektualitas untuk Perkuat Kader yang Progresif
April 21, 2026By
Kaprodi S2 MPI Umsida : Workshop Kurikulum Merdeka Tingkatkan Kualitas Pendidikan
April 20, 2026By

Prestasi

4 Dosen FAI Umsida Lolos Pendanaan Kemendiktisaintek 2026
April 27, 2026By
Taklukkan Lawan Berpengalaman, Yuhsin Raih Emas Paku Bumi Open 2026
April 14, 2026By
Diuji Mental, Fadlan Azmy Tetap Bawa Pulang Juara 2 Paku Bumi Open 2026
April 13, 2026By
Disiplin dan Fokus Antar Fitri Raih Juara 2 di Paku Bumi Open 2026
April 10, 2026By
Tertinggal Poin Tak Padamkan Semangat Ummu Hani Raih Juara di Paku Bumi Open 2026
April 9, 2026By
Latihan Konsisten Antar Dedi Juara 1 Paku Bumi Open 2026
April 8, 2026By
Cedera Tak Hentikan Yusuf Naufal Rebut Emas Pakubumi Open 2026
April 7, 2026By
Mahasiswa FAI Umsida Borong Medali di Paku Bumi Open 2026
April 5, 2026By

Penelitian

Dorong Kemandirian Ekonomi, Ibu-Ibu Aisyiyah Kenongo Dibekali Literasi Bisnis Syariah dan Teknologi AI
February 10, 2026By
Pameran Inovasi Berdampak
4 Inovasi FAI Umsida Tampil di Pameran Inovasi LLDIKTI Wilayah VII
November 25, 2025By
ghibah
Mahasiswa FAI Umsida Kembangkan Model Pengendalian Ghibah Syar’i untuk Bangun Budaya Etika Islami
October 16, 2025By
Abdimas FAI Umsida Kembangkan PAUD Aisyiyah Wonoayu melalui Model Flipped Classroom
May 6, 2025By
Tim Abdimas FAI Umsida Lakukan Pelatihan Marketing Untuk Memberdayakan Unit Usaha Wakaf Produktif
September 11, 2024By
Bahas Psikologi Belajar, Dosen FAI Umsida Lakukan Abdimas Internasional di Malaysia
September 4, 2024By
Abdimas Internasional di PCIM Malaysia, Dosen Pesya FAI UMSIDA Lakukan Literasi Keuangan Bersama PMI
September 3, 2024By
Para Orang Tua ABK Ikuti Sosialisasi Penelitian Website Theraphy Al-Qur’an Bersama PAI Umsida
September 2, 2024By