Fai.umsida.ac.id — Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) memasuki babak baru melalui agenda Rapat Harmonisasi Fakultas yang digelar di ruang rapat Kampus 3 Umsida, Rabu (4/6/2026).
Baca Juga: Amanah Jadi Kunci Kemajuan Umsida, Ini Pesan Ketua BPH
Kegiatan ini menjadi forum awal penyelarasan kelembagaan setelah FAI berada dalam struktur baru Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) per 1 Juni 2026.
Transformasi tersebut merujuk pada penyerahan Surat Keputusan (SK) jabatan struktural dalam kegiatan Rapat Konsolidasi Pimpinan sekaligus Penyerahan SK Jabatan Struktural Umsida yang berlangsung di Aula KH Mas Mansyur Umsida, Selasa (2/6/2026).
Melalui agenda harmonisasi ini, jajaran fakultas mulai menyamakan arah kerja, pola koordinasi, serta strategi penguatan akademik dan kelembagaan.
Rapat tersebut dihadiri oleh Dekan FPSI yang baru, Dr Septi Budi Sartika MPd, beserta jajaran pimpinan yang sebelumnya berada di FPIP. Turut hadir Wakil Dekan I Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Dr Ida Rindaningsih, MPd, serta Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Keuangan, SDM, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Dr Anita Puji Astutik, MPdI.
Dalam forum tersebut, Dekan FPIP sebelumnya ini menyampaikan bahwa amanah baru ini membutuhkan kerja bersama seluruh unsur fakultas. Ia menegaskan pentingnya dukungan, keterbukaan, dan kesediaan untuk saling menyelaraskan langkah.
“Mohon bantuan dan dukungan dari seluruh jajaran untuk bersama-sama menyelaraskan langkah, karena ini merupakan amanah baru dari pimpinan. Kita perlu bergerak bersama agar proses harmonisasi ini berjalan baik dan membawa manfaat bagi fakultas,” ujar Dr Septi.
Sementara itu, Dr Ida menekankan bahwa perubahan struktur ini perlu dimaknai sebagai kelanjutan perjuangan, bukan sebagai pemutusan sejarah FAI. Menurutnya, FAI memiliki akar yang kuat dalam perjalanan Umsida sehingga nilai-nilai keislaman yang telah dibangun harus tetap menjadi fondasi dalam FPSI.
“FAI memiliki sejarah panjang sebagai bagian penting dari lahir dan berkembangnya Umsida. Karena itu, perubahan ini bukan berarti menghilangkan identitas FAI, tetapi menjadi ruang baru untuk memperkuat kontribusi pendidikan Islam dalam struktur yang lebih luas,” ungkap Dr Ida.
FAI Reborn Sebagai Penguatan Sejarah dan Identitas
FAI Reborn menjadi istilah penting dalam proses transformasi ini. Meski FAI merupakan cikal bakal berdirinya Umsida sekaligus fakultas pertama yang menjadi fondasi awal perkembangan kampus, perubahan kelembagaan ini tidak dipahami sebagai akhir dari perjalanan FAI.
Sebaliknya, FAI Reborn menjadi penanda lahirnya semangat baru untuk memperkuat warisan keislaman, memperluas kolaborasi akademik, dan menegaskan kembali peran studi Islam dalam pengembangan pendidikan berkemajuan.
Sebagai fakultas yang memiliki akar historis kuat, FAI membawa nilai dasar keislaman yang selama ini ikut membentuk karakter institusi. Nilai dakwah, pendidikan Islam, bahasa Arab, manajemen pendidikan Islam, dan penguatan karakter tetap menjadi ruh utama dalam perjalanan FPSI.
Harmonisasi Untuk Menyatukan Kultur Akademik
Penggabungan unsur FAI dan FPIP dalam FPSI menuntut proses adaptasi yang terukur. Setiap fakultas sebelumnya memiliki kultur, tradisi akademik, dan pola kerja masing-masing. FAI dikenal dengan basis studi Islam, dakwah, pendidikan agama, bahasa Arab, dan penguatan nilai keislaman. Sementara FPIP membawa tradisi keilmuan pendidikan, psikologi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Pertemuan dua basis keilmuan tersebut menjadi modal strategis bagi FPSI. Jika dikelola dengan baik, fakultas baru ini dapat melahirkan model pendidikan Islam yang tidak hanya normatif, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan peserta didik, perkembangan psikologi pendidikan, serta tantangan masyarakat modern.
FPSI Siapkan Arah Baru Berbasis Kolaborasi
Melalui struktur baru ini, FPSI memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi Umsida dalam bidang pendidikan dan studi Islam. Kolaborasi lintas disiplin dapat diarahkan pada pengembangan riset pendidikan Islam, penguatan karakter peserta didik, psikologi pembelajaran, inovasi kurikulum, serta dakwah berbasis ilmu pengetahuan.
Baca Juga: Halal Voyage Pererat Kolaborasi FAI Umsida dan USIM
Bagi FAI, momentum ini menjadi peluang untuk memperluas kontribusi. Identitas keislaman tetap menjadi fondasi utama, tetapi ruang geraknya menjadi lebih luas melalui sinergi dengan bidang pendidikan dan psikologi.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi


























