Fai.umsida.ac.id — Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FAI Umsida) menggelar International Visiting Lecture bertema Understanding the Qur’an through Arabic: Strengthening Islamic Education in the Modern Era pada Senin (25/5/2026).
Baca Juga: 8 Karya Lolos di PKM dan P2MW 2026, Umsida Ciptakan Berbagai Riset dan Inovasi
Kegiatan yang bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 H tersebut berlangsung di KH Mas Mansyur Hall lantai 7 GKB 2 Kampus 1 Umsida, mulai pukul 08.30 hingga 13.00 WIB. Kuliah umum internasional ini menghadirkan Prof. Dr. Ahmad Muhammad At Toukhi, pakar internasional dalam bidang bahasa Arab dan studi Al-Qur’an.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Ahmad menyampaikan materi dengan didampingi penerjemah. Kehadiran penerjemah membuat penyampaian materi yang menggunakan bahasa Arab dapat dipahami dengan baik oleh peserta. Suasana kuliah berlangsung interaktif karena narasumber tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mengajak peserta berpikir, menjawab pertanyaan, dan memahami contoh-contoh bahasa Arab dalam Al-Qur’an.
Bahasa Arab sebagai Kunci Memahami Al-Qur’an
Dalam pemaparannya, Prof. Ahmad menegaskan bahwa memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca atau menghafal lafaznya. Menurutnya, bahasa Arab memiliki kedudukan penting karena menjadi pintu untuk memahami makna, susunan kata, dan pesan mendalam yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an.
Ia menyoroti problem pembelajaran agama yang masih sering berhenti pada hafalan. Banyak pelajar mampu menghafal kata atau ayat, tetapi belum tentu memahami makna yang terkandung di dalamnya.
“Perbedaan yang sangat besar antara paham dan hafal. Bahasa Arab bukan semata-mata hafalan. Bahasa Arab adalah pemahaman,” jelas Prof. Ahmad melalui penerjemah.
Ia kemudian memberikan contoh makna kata Allah yang dijelaskan melalui akar kata dalam bahasa Arab. Melalui contoh tersebut, peserta diajak memahami bahwa bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana membangun kesadaran tauhid, cinta kepada Allah, dan ketaatan terhadap perintah-Nya.
Prof. Ahmad menjelaskan bahwa ketika seseorang memahami makna Allah sebagai Zat yang dicintai dan disembah, maka pemahaman itu akan berpengaruh pada perilaku. Seseorang tidak mencuri, tidak berbuat zina, dan tidak melakukan larangan agama bukan sekadar karena takut, tetapi karena cinta kepada Allah dan menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sembahan.
Dari Hafalan Menuju Pemahaman Kritis
Kuliah umum ini juga menekankan pentingnya penggunaan akal dalam memahami Al-Qur’an. Prof. Ahmad memberi contoh kata iqra’ sebagai ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, satu kata dalam Al-Qur’an dapat mengandung struktur makna yang luas jika dipahami melalui kaidah bahasa Arab.
Ia menjelaskan bahwa kata kerja dalam bahasa Arab dapat mengarahkan pembaca untuk memahami siapa yang memerintah, siapa yang diperintah, dan apa objek perintah tersebut. Dari kata iqra’, peserta diajak memahami bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk membaca.
“Kenapa Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab? Agar kita belajar, berpikir, dan menggunakan akal,” ungkapnya.
Menurut Prof. Ahmad, pembelajaran bahasa Arab dalam pendidikan Islam modern perlu diarahkan pada pemahaman, bukan sekadar penguasaan kaidah secara mekanis. Bahasa Arab harus mampu menggerakkan daya pikir peserta didik agar mereka tidak hanya mengenal bunyi ayat, tetapi juga mampu menangkap pesan moral dan spiritual di dalamnya.
Pesan tersebut relevan dengan penguatan pendidikan Islam di era modern. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya informasi, peserta didik membutuhkan fondasi keislaman yang kuat, rasional, dan berakar pada pemahaman Al-Qur’an.
FAI Umsida Perkuat Wawasan Keislaman Global
Selain membahas bahasa Arab dan Al-Qur’an, Prof. Ahmad juga menyampaikan apresiasi terhadap Indonesia dan Umsida. Melalui penerjemah, ia menyampaikan bahwa kehadirannya di Umsida terasa seperti berada di rumah sendiri.
“Saya merasa tidak sedang berada di tempat asing. Saya merasa sedang pulang ke rumah sendiri,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki posisi istimewa di hati masyarakat Mesir, termasuk dalam tradisi keilmuan Islam. Prof Ahmad menilai mahasiswa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pembelajar yang cerdas, kuat secara spiritual, dan unggul dalam bidang keilmuan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong mahasiswa agar memiliki target hidup yang jelas. Menurutnya, seorang pelajar tidak cukup hanya menjalani kuliah, lulus, bekerja, lalu selesai. Mahasiswa perlu memiliki tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang agar proses belajar memiliki arah yang kuat.
Baca Juga: S2 MPI Umsida Gali Praktik Manajemen Pendidikan di SIKL Malaysia
Melalui kegiatan ini, FAI Umsida berupaya memperluas wawasan akademik mahasiswa dan dosen dalam memahami hubungan antara bahasa Arab, Al-Qur’an, dan pendidikan Islam kontemporer. Kuliah umum internasional ini juga menjadi bagian dari komitmen FAI Umsida dalam menghadirkan ruang akademik yang terbuka, global, dan berorientasi pada penguatan kualitas keilmuan Islam.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi


























