Prof Jaenuri Jelaskan Filosofi Kupat di Bulan Syawal

Fai.umsida.ac.id – Momentum Syawal tidak hanya dipahami sebagai perayaan pasca-Ramadan, melainkan juga sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi diri dalam menata hati, pikiran, dan perilaku.

Baca Juga: Flashcard Digital Buka Cara Baru Belajar Huruf Hijaiyah

Pesan itu mengemuka dalam opening speech yang disampaikan Prof Jaenuri, dosen Magister Pendidikan Dasar  Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Mpd Umsida), saat membuka sebuah momentum Halalbihalal pasca-Idulfitri.

Dalam sambutannya, Prof Jaenuri menyoroti kuatnya nilai filosofis tradisi Jawa yang masih lekat dengan masyarakat Indonesia, khususnya simbol kupat dan janur yang identik dengan suasana Lebaran. Ia menjelaskan bahwa di balik tradisi tersebut, terdapat pesan mendalam tentang kesucian, arah hidup, dan upaya manusia untuk kembali kepada nilai-nilai kebaikan. Gagasan itu tampak dalam penjelasannya mengenai makna kupat, janur, serta ajakan untuk menjaga kebersihan lahir dan batin setelah Ramadan

Kupat dan janur bukan sekadar tradisi

Dalam pidatonya, Prof Jaenuri menegaskan bahwa masyarakat kerap melihat simbol-simbol Lebaran hanya pada permukaannya saja. Padahal, tradisi seperti kupat dan janur menyimpan pesan filosofis yang kuat. Menurutnya, kupat tidak cukup dipahami sebagai hidangan khas Syawal, melainkan simbol yang mengingatkan manusia untuk kembali pada fitrah dan nilai ketulusan.

Ia menjelaskan bahwa unsur janur juga memiliki kedekatan tersendiri dalam budaya masyarakat Jawa. Janur diingat bukan sekadar sebagai anyaman pembungkus ketupat, tetapi sebagai penanda hadirnya momentum penting setelah umat Islam menuntaskan ibadah Ramadan. Dari simbol sederhana itu, Prof Jaenuri mengajak hadirin untuk membaca makna yang lebih dalam, yakni pentingnya kembali pada kehidupan yang bersih, jernih, dan terarah.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal tidak berdiri terpisah dari nilai-nilai keislaman. Justru, budaya yang hidup di tengah masyarakat dapat menjadi medium dakwah yang lembut dan membumi. Dalam konteks ini, Prof Jaenuri menempatkan kupat sebagai simbol yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun tetap sarat pelajaran moral bagi masyarakat.

Makna arah hidup dan kebutuhan akan petunjuk

Selain menyinggung makna kupat sebagai simbol kembali kepada fitrah, Prof Jaenuri juga mengulas sisi-sisi kupat yang menurutnya menggambarkan arah mata angin, yakni barat, timur, utara, dan selatan. Tafsir ini ia gunakan untuk mengajak hadirin merenungkan arah perjalanan hidup manusia.

Manusia, menurutnya, tidak cukup hanya menjalani rutinitas selepas Ramadan tanpa orientasi yang jelas. Syawal justru harus menjadi titik tolak untuk memohon petunjuk Allah dalam menjalani kehidupan, baik dalam urusan pribadi, sosial, maupun pengabdian di lingkungan pendidikan. Pesan ini menjadi penting, terutama bagi sivitas akademika, karena dunia pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter dan komitmen moral.

Dari pidato pembuka itu, tampak bahwa Prof Jaenuri berusaha membawa suasana Syawal ke dalam refleksi yang lebih luas. Ia tidak berhenti pada simbol budaya, tetapi menghubungkannya dengan kebutuhan manusia untuk terus diarahkan kepada jalan yang benar. Dengan demikian, semangat kebersamaan pasca-Lebaran tidak berhenti pada seremonial, tetapi berlanjut menjadi energi untuk memperbaiki diri dan memperkuat relasi sosial.

Syawal sebagai momen membersihkan diri

Pada bagian akhir sambutannya, Prof Jaenuri menekankan bahwa momen seperti ini sangat penting bagi setiap individu. Setelah sebulan menjalani ibadah Ramadan, seseorang semestinya mampu menampilkan ekspresi diri yang lebih baik sebagai buah dari proses penyucian jiwa. Ia menyinggung pentingnya kebersihan fisik, hati, dan pikiran sebagai wujud nyata dari kesalehan yang telah ditempa selama bulan suci

Baca Juga: Idulfitri dan Silaturahim Jadi Cermin Islam Indonesia

Pesan itu relevan dengan kehidupan kampus yang menuntut bukan hanya kecakapan akademik, tetapi juga kedewasaan sikap. Bagi lingkungan Mpd Umsida, pidato pembuka tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan sejatinya bertumpu pada pembentukan manusia yang utuh. Kebersihan hati dan kejernihan berpikir menjadi fondasi penting dalam membangun suasana akademik yang sehat, dialogis, dan berintegritas.

Penulis: Akhmad Hasbul Wafi

Berita Terkini

Halalbihalal 1447 H Teguhkan Ukhuwah dan Semangat Pascaramadan
March 27, 2026By
Mengapa 10 Hari Terakhir Ramadan Menjadi Momentum Terbaik untuk Beribadah
March 16, 2026By
Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026
March 15, 2026By
IMM Averroes FAI Umsida Ambil Bagian dalam Sahur On The Road Ramadan 1447 H
March 13, 2026By
IMM Averroes FAI Umsida Tebar Takjil dan Semangat Humanitas Ramadan
March 12, 2026By
Islam Mengajarkan Kemudahan Ibadah dalam Setiap Kondisi Kehidupan Manusia
March 11, 2026By
Perkuliahan Semester Genap FAI Umsida Dimulai 9 Maret 2026
March 9, 2026By
Kajian Ramadan 1447 H, IMM Averroes Ajak Aktivis Mahasiswa FAI Kuatkan Iman
March 7, 2026By

Prestasi

Berkah Ramadan, Mahasiswa FAI Umsida Juara 1 Tahfidz Internasional 30 Juz
March 14, 2026By
Disiplin dan Manajemen Waktu Mahasiswa FAI Umsida Berbuah Medali Perak Tapak Suci
January 4, 2026By
Dari Kampus ke Arena Yuhsin Amali Buktikan Latihan Konsisten Berbuah Prestasi
January 3, 2026By
Tak Gentar Cedera, Hikmah Sabet Emas di Unesa Pencak Silat Challenge III
December 28, 2025By
Debut di UPSCC III Unesa, Mahasiswa FAI Ini Langsung Sabet Emas
December 27, 2025By
Abdurrasheed Almarruf, Mahasiswa PBA Umsida Raih Medali Perunggu Taekwondo pada Laga Perdana
December 17, 2025By
Angkat Isu Etika Islami, TIM PKM FAI Umsida Raih Juara 3 RSH-2 PIMTANAS PTMA 2025
December 15, 2025By
 2 Mahasiswa FAI Umsida Raih Gold Medal PMAP International Innovation Day 2025 di UniSZA
December 12, 2025By

Penelitian

Dorong Kemandirian Ekonomi, Ibu-Ibu Aisyiyah Kenongo Dibekali Literasi Bisnis Syariah dan Teknologi AI
February 10, 2026By
Pameran Inovasi Berdampak
4 Inovasi FAI Umsida Tampil di Pameran Inovasi LLDIKTI Wilayah VII
November 25, 2025By
ghibah
Mahasiswa FAI Umsida Kembangkan Model Pengendalian Ghibah Syar’i untuk Bangun Budaya Etika Islami
October 16, 2025By
Abdimas FAI Umsida Kembangkan PAUD Aisyiyah Wonoayu melalui Model Flipped Classroom
May 6, 2025By
Tim Abdimas FAI Umsida Lakukan Pelatihan Marketing Untuk Memberdayakan Unit Usaha Wakaf Produktif
September 11, 2024By
Bahas Psikologi Belajar, Dosen FAI Umsida Lakukan Abdimas Internasional di Malaysia
September 4, 2024By
Abdimas Internasional di PCIM Malaysia, Dosen Pesya FAI UMSIDA Lakukan Literasi Keuangan Bersama PMI
September 3, 2024By
Para Orang Tua ABK Ikuti Sosialisasi Penelitian Website Theraphy Al-Qur’an Bersama PAI Umsida
September 2, 2024By