Fai.umsida.ac.id – Untuk membantu mahasiswa dan masyarakat menjalankan Ramadan dengan lebih bermakna, para ulama terdahulu ternyata sudah menghadirkan pemaknaan tiga tingkatan puasa menurut Imam Al-Ghazali.
Baca Juga: Tips Khatam Al Quran di Bulan Ramadan Agar Lebih Terukur
sebagai bekal meningkatkan kualitas ibadah dari sekadar menahan lapar dan dahaga menuju penjagaan anggota tubuh, hati, dan orientasi hidup agar berujung pada ketakwaan.
Dalam wawancara bersama Dr Dzulfikar Akbar Romadlon, kajian ini ditegaskan sebagai pengingat bahwa puasa bukan sekadar perubahan jadwal makan, tetapi latihan kendali diri yang berdampak pada akhlak, cara berkomunikasi, dan kebersihan batin.
Puasa Tidak Boleh Berhenti di Perut
Dosen FAI ini menjelaskan bahwa banyak orang merasa puasanya sudah “beres” karena berhasil tidak makan dan minum, padahal kualitas puasa bisa jauh lebih tinggi jika dipahami sebagai proses naik level.
“Imam Al-Ghazali menjelaskan ada tiga tingkatan puasa. Kalau kita hanya berhenti pada menahan lapar dan haus, kita baru berada di level paling dasar,” ujar Dr Dzulfikar.
Ia menyebut tingkatan pertama sebagai sawmu al-‘awam atau puasanya orang awam. Pada tahap ini, fokus utama hanya menahan perut dan menjaga diri dari hal yang membatalkan puasa secara lahiriah.
“Level ini sah secara fikih. Tapi masalahnya, banyak orang berhenti di sini. Perutnya puasa, tetapi lisannya tidak puasa, matanya tidak puasa, dan emosinya tidak puasa,” katanya.
Menurutnya, gejala puasa yang masih “berhenti di perut” mudah dikenali dalam aktivitas harian. Seseorang bisa saja kuat menahan lapar, tetapi masih gampang marah, mengeluh, atau menyerang orang lain lewat kata-kata.
“Contohnya sederhana. Ada yang dari pagi sampai sore tidak makan, tapi di kantor tetap ngomel, di rumah tetap membentak, di media sosial tetap menyindir. Ini tanda puasanya masih sebatas rutinitas fisik,” tutur Dr Dzulfikar.
Ia menambahkan, jika puasa hanya menjadi kebiasaan tahunan yang tidak mengubah perilaku, maka Ramadan kehilangan fungsinya sebagai madrasah pembentukan karakter.
Menahan Lisan Mata dan Jari Termasuk Puasa
Ketika ditanya bagaimana bentuk peningkatan dari tingkatan pertama, Dr Dzulfikar menekankan pentingnya naik ke level kedua, yaitu sawmu al-khawas atau puasanya orang khusus. Pada tahap ini, puasa tidak hanya menahan perut, tetapi menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.
“Level kedua itu puasa yang mulai terasa dampaknya. Karena bukan hanya makan dan minum yang ditahan, tapi juga lisan dari ghibah dan dusta, mata dari hal yang haram, telinga dari mendengar keburukan,” jelasnya.
Dr Dzulfikar juga mengaitkan hal ini dengan kebiasaan komunikasi sehari-hari, terutama di ruang digital yang sering membuat orang merasa bebas berkata apa saja.
“Sekarang tantangannya bukan cuma di warung atau di kantor. Tantangan besar ada di HP. Jari kita juga harus puasa. Mengetik komentar kasar, menyebar fitnah, memprovokasi, itu bisa merusak nilai puasa walaupun tidak membatalkan secara fikih,” tegasnya.
Ia lalu memberi contoh yang lebih praktis agar jamaah bisa menerapkan puasa level kedua.
“Misalnya ada chat grup yang mulai bergosip, kita hentikan atau kita keluar dari topik itu. Atau saat emosi naik dan ingin membalas komentar, kita tahan. Kalau perlu diam. Itu latihan puasa,” ungkap Dr Dzulfikar.
Menurutnya, indikator puasa yang mulai naik level terlihat dari perubahan kecil tetapi konsisten: lebih tenang, lebih selektif berbicara, dan lebih mudah menahan reaksi impulsif.
“Kalau selama Ramadan kita lebih sabar, lebih berhati-hati dalam bicara, itu pertanda puasa bukan cuma di perut. Itu sudah bergerak ke puasa anggota tubuh,” kata dia.
Puasa Tingkat Tertinggi Menata Hati dan Arah Hidup
Dr Dzulfikar melanjutkan bahwa tingkatan ketiga adalah puncak kualitas puasa, yaitu sawmu khawas al-khawas, puasanya orang yang lebih khusus lagi. Pada level ini, yang dijaga bukan hanya anggota tubuh, tetapi juga hati dan pikiran.
“Di level ketiga, puasa itu sudah masuk ke wilayah batin. Hati ditahan dari sifat tercela seperti riya, dengki, sombong. Pikiran dijauhkan dari orientasi dunia yang berlebihan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa inti puasa level ketiga bukan berarti meninggalkan urusan dunia sepenuhnya, melainkan menata ulang prioritas sehingga dunia tidak menjadi pusat.
“Bekerja tetap boleh, berusaha tetap boleh. Tapi hati tidak boleh diperbudak dunia. Kalau memikirkan dunia, pikirkan yang sesuai agama, yang mendukung kebaikan, bukan untuk hawa nafsu dan kebanggaan diri,” jelas Dr Dzulfikar.
Ia memberi contoh konkret yang sering terjadi di Ramadan: ibadah yang tampak ramai tetapi diam-diam mengejar pengakuan.
“Contoh yang sering kita alami, seseorang rajin ibadah, tapi hatinya sibuk ingin dipuji. Atau sedekah, tapi ingin dilihat. Puasa level ketiga mengajak kita membersihkan niat. Bukan pamer, tapi benar-benar karena Allah,” tuturnya.
Di akhir wawancara, Dr Dzulfikar mengajak civitas akademika dan masyarakat untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum evaluasi kualitas diri, bukan sekadar target menuntaskan puasa sebulan.
Baca Juga: Strategi Puasa Sehat yang Jarang Diketahui dari Sahur hingga Tarawih
“Naik level itu tidak harus langsung sempurna. Mulai dari yang paling realistis: jaga lisan, jaga mata, jaga jari. Lalu lanjutkan dengan membersihkan hati. Kalau puasa kita naik level, insyaAllah ketakwaan itu lebih terasa setelah Ramadan,” pungkasnya.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi


























