Fai.umsida.ac.id — Di antara seluruh malam di bulan Ramadan, Lailatul Qadr menempati posisi yang sangat istimewa. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini selalu dinanti umat Islam, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Baca Juga: Kajian Ramadan 1447 H IMM Averroes Aktivis Mahasiswa Ajak Kuatkan Iman
Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan umatnya untuk tidak hanya mencari kapan datangnya malam tersebut, tetapi juga menyiapkan ibadah terbaik saat menemukannya, termasuk dengan membaca doa yang diajarkan secara khusus.
Dalam tuntunan Islam, Lailatul Qadr tidak disebut secara pasti jatuh pada tanggal tertentu. Namun, Rasulullah saw memberikan petunjuk agar umat Islam mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Keterangan ini diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Nabi saw memerintahkan umatnya untuk mengintai Lailatul Qadr pada malam ganjil di akhir Ramadan.
Petunjuk lain juga datang dari riwayat Ibnu Abbas ra. Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw menganjurkan agar malam istimewa itu dicari pada waktu-waktu tertentu dalam sepuluh malam terakhir, seperti ketika tersisa sembilan, tujuh, atau lima malam Ramadan.
Karena itu, banyak ulama memahami bahwa malam-malam seperti 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan memiliki peluang besar sebagai waktu turunnya Lailatul Qadr.
Meski demikian, anjuran para ulama tidak berhenti pada pencarian tanggal. Umat Islam justru diajak menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan ibadah yang lebih sungguh-sungguh. Sikap ini menunjukkan bahwa yang utama bukan sekadar mengetahui kapan Lailatul Qadr terjadi, melainkan kesiapan hati dan amal dalam menyambutnya.
Malam Mulia yang Diisi dengan Doa Ampunan
Salah satu hal penting yang menarik dalam pembahasan Lailatul Qadr adalah pertanyaan Aisyah ra kepada Rasulullah saw. Ia tidak hanya ingin mengetahui kapan malam itu datang, tetapi juga ingin memahami bacaan terbaik yang seharusnya diucapkan apabila benar-benar bertemu dengan Lailatul Qadr.
Menjawab pertanyaan itu, Rasulullah saw mengajarkan sebuah doa yang sangat singkat, tetapi memiliki makna yang sangat dalam:
اَللّٰهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allahumma innaka ‘afuwwun kariim, tuhibbul ‘afwa, fa‘fu ‘anni
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Doa ini menjadi salah satu amalan yang paling populer dibaca pada malam-malam akhir Ramadan. Bukan tanpa alasan, Rasulullah saw justru mengarahkan umatnya untuk memohon ampunan, bukan memperbanyak permintaan duniawi. Ini menunjukkan bahwa inti kemuliaan Lailatul Qadr terletak pada kesempatan hamba untuk kembali mendekat kepada Allah dan berharap penghapusan dosa-dosanya.
Makna doa tersebut juga menegaskan bahwa ampunan Allah adalah karunia terbesar yang layak dikejar pada malam penuh keberkahan itu. Dalam konteks ini, Lailatul Qadr tidak hanya dipahami sebagai malam yang agung secara spiritual, tetapi juga momentum penyucian jiwa bagi setiap Muslim.
Iktikaf dan Kesungguhan Rasulullah di Akhir Ramadan
Semangat mencari Lailatul Qadr juga tampak dalam teladan Rasulullah saw pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Dalam berbagai riwayat, Nabi dikenal meningkatkan ibadahnya secara lebih sungguh-sungguh pada fase akhir bulan suci. Salah satu bentuk kesungguhan itu adalah dengan melaksanakan iktikaf.
Iktikaf menjadi jalan untuk memusatkan hati, menjauh dari kesibukan dunia, dan menghidupkan malam dengan salat, zikir, tilawah, serta doa. Dengan cara ini, Rasulullah saw memberi contoh bahwa Lailatul Qadr tidak diraih dengan sikap biasa-biasa saja, tetapi dengan keseriusan ibadah dan ketulusan hati.
Bagi umat Islam, pelajaran terpenting dari tuntunan ini adalah bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan seharusnya diisi dengan peningkatan kualitas ibadah. Membaca doa yang diajarkan Nabi, memperbanyak istigfar, dan mendekatkan diri kepada Allah menjadi bagian dari upaya menyambut malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
Baca Juga:Pendidikan Islam Berkemajuan Jadi Topik Kajian Ramadan Umsida 1447 H
Karena itu, Lailatul Qadr bukan sekadar malam untuk dicari, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Doa yang diajarkan Rasulullah saw menjadi pengingat bahwa di malam paling mulia pun, seorang hamba tetap diajak kembali pada kebutuhan paling mendasar, yakni memohon ampunan dan rahmat-Nya.
Sumber: Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tuntunan Ramadhan.

























