Fai.umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar kegiatan Halalbihalal Idul Fitri 1447 H pada Kamis, 26 Maret 2026, di Auditorium Ahmad Dahlan Kampus 1 Umsida.
Baca Juga: Idulfitri dan Silaturahim Jadi Cermin Islam Indonesia
Kegiatan yang mengusung tema Harmoni Syawal Merangkai Kebersamaan Menuju Ketaqwaan dan Kebahagiaan ini dihadiri jajaran Badan Pembina Harian (BPH), rektorat, Ketua PDM Sidoarjo, pejabat struktural, serta tenaga kependidikan di lingkungan Umsida.
Momentum Syawal tersebut tidak hanya menjadi ajang temu dan silaturahmi antarsivitas akademika, tetapi juga menjadi ruang untuk meneguhkan kembali semangat kebersamaan setelah menjalani ibadah Ramadan. Halalbihalal juga dikemas hangat melalui kuis interaktif menggunakan Kahoot yang berisi materi tausiyah selama Ramadan. Para peserta tampak antusias mengikuti kuis tersebut, sementara sepuluh peserta dengan nilai tertinggi memperoleh penghargaan dari Direktorat Al Islam dan Kemuhammadiyahan (DAIK).
Dalam suasana penuh kekeluargaan, kegiatan ini menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan juga awal untuk melanjutkan nilai-nilai ketakwaan, keikhlasan, dan semangat pengabdian dalam kehidupan sehari-hari.
Momentum Saling Memaafkan dan Menguatkan Ukhuwah
Rektor Umsida, Dr Hidayatulloh MSi, dalam sambutannya mengajak seluruh peserta menjadikan Halalbihalal sebagai momentum untuk saling memaafkan dan memperkuat ukhuwah. Menurutnya, setelah sebulan penuh menjalani ibadah Ramadan, Idul Fitri semestinya menghadirkan semangat baru untuk kembali membersihkan hati dan memperbaiki hubungan antarsesama.
“Atas nama pimpinan Umsida, kami mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita selama bulan Ramadan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh sivitas akademika atas segala kekurangan selama proses kepemimpinan dan interaksi sehari-hari di lingkungan kampus.
“Kami menyadari bahwa dalam proses kepemimpinan dan pergaulan, tentu ada kekurangan, kekhilafan, bahkan mungkin kesalahan. Maka dalam momentum ini kami memohon maaf lahir dan batin,” tuturnya.
Pesan ini menegaskan bahwa semangat Halalbihalal dalam tradisi Islam Indonesia memiliki makna mendalam. Tidak hanya menjadi budaya saling berjabat tangan dan bermaafan, tetapi juga menjadi sarana menyucikan hati, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan kembali etos kebaikan setelah Ramadan.
Dalam konteks kehidupan kampus, nilai-nilai tersebut menjadi penting karena pendidikan tidak hanya dibangun melalui proses akademik, tetapi juga melalui keteladanan, adab, dan relasi yang sehat di antara seluruh unsur civitas.
Pascaramadan Jadi Awal Semangat Pengabdian
Selain sebagai ajang silaturahmi, Halalbihalal Umsida juga dimanfaatkan untuk membangkitkan semangat kerja dan pengabdian pasca-Ramadan. Rektor Umsida menekankan bahwa ibadah Ramadan seharusnya meninggalkan bekas yang nyata dalam bentuk peningkatan integritas, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah.
“Mudah-mudahan pasca Ramadan, semangat kita dalam menjalankan tugas pengabdian di Umsida semakin meningkat,” ungkapnya.
Ia juga mengajak seluruh unit kerja untuk aktif mendukung target Penerimaan Mahasiswa Baru tahun akademik 2026–2027. Tahun ini, Umsida menargetkan 3.000 mahasiswa baru reguler, di luar RPL dan afirmasi dari kementerian.
“Oleh karena itu, kami mohon semuanya bisa bergerak kembali setelah Ramadan ini. Kita giatkan publikasi di masing-masing unit kerja, prodi, fakultas, hingga tingkat universitas,” tegasnya.
Menurutnya, upaya tersebut tidak sekadar berorientasi pada pencapaian institusi, tetapi juga menjadi bagian dari pengamalan nilai ketakwaan. Semakin banyak mahasiswa yang dapat dijangkau dan dibina, semakin besar pula manfaat yang diberikan kampus kepada masyarakat.
“Semakin banyak mahasiswa yang kita selamatkan, maka puasa kita menjadi lebih bermakna, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain,” jelasnya.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa spirit pasca-Ramadan harus diwujudkan dalam kerja nyata. Di lingkungan perguruan tinggi Islam seperti Umsida, semangat pengabdian tersebut menjadi bagian dari dakwah, pendidikan, dan ikhtiar menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas.
Makna Lebaran dalam Nilai Filosofis dan Spiritual
Sementara itu, Wakil Ketua BPH Umsida, Prof Achmad Jainuri MA PhD, mengingatkan bahwa Idul Fitri adalah momen kembali kepada fitrah, yakni kembali pada kesucian diri setelah menempuh proses pendidikan ruhani selama Ramadan.
“Idul Fitri sering kita rayakan dengan ucapan taqabbalallahu minna wa minkum, semoga amal ibadah kita diterima dan kita kembali menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan makna filosofis tradisi lebaran yang lekat dengan budaya masyarakat Indonesia, salah satunya melalui simbol ketupat. Menurutnya, ketupat tidak hanya hadir sebagai hidangan khas lebaran, tetapi juga mengandung pesan moral dan spiritual.
“Kupat itu ngaku lepat, artinya kita mengakui kesalahan. Janur itu ja’a nur, petunjuk telah datang kepada kita selama Ramadan. Isi beras putih melambangkan kembali ke fitrah,” jelasnya.
Bentuk ketupat yang menyerupai empat sisi juga dimaknai sebagai gambaran arah perjalanan manusia yang tidak selalu lurus dan mudah. Karena itu, manusia memerlukan petunjuk Allah agar tetap berada di jalan yang benar.
Prof Jainuri juga menjelaskan konsep “3L” dalam tradisi lebaran, yaitu lebaran, luberan, dan laburan. Lebaran dimaknai sebagai kembali suci, luberan berarti berbagi rezeki kepada sesama, sedangkan laburan melambangkan kebersihan lahir dan batin.
Baca Juga: Dunia Setelah Kebijakan Amerika Serikat: Dari Tatanan Global Menuju Ketidakpastian Baru
“Ini adalah ekspresi kesucian jiwa yang kemudian diwujudkan dalam kebersihan fisik dan lingkungan sebagaimana hadits annadhofatu minal iman, kebersihan sebagian dari iman,” pungkasnya.
Penulis: Romadhona


























