Fai.umsida.ac.id – Perayaan Idulfitri di Indonesia tidak hanya dimaknai sebagai hari besar keagamaan bagi umat Islam, tetapi juga menjadi momentum sosial yang kuat untuk mempererat hubungan antarsesama.
Baca Juga: Sinergi Umsida Bagikan Bingkisan Idul Fitri untuk Pegawai Supporting di 3 Kampus
Tradisi saling berkunjung, bersilaturahim, dan bermaaf-maafan telah menjadi bagian penting dari wajah Idulfitri di Tanah Air.
Idulfitri di Indonesia memiliki kekhasan yang tidak banyak ditemukan di negara lain karena perayaannya tidak hanya dirasakan oleh umat Islam, tetapi juga menjadi suasana kebangsaan yang melibatkan masyarakat secara luas.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr Agus Taufiqurrahman menilai, tradisi silaturahim yang mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa Idulfitri bukan sekadar ritual ibadah tahunan. Lebih dari itu, momen ini menjadi ruang perjumpaan sosial yang mempersatukan keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat dalam suasana saling menghormati dan memuliakan.
Idulfitri di Indonesia Punya Kekhasan Tersendiri
Menurut Agus, salah satu ciri khas Idulfitri di Indonesia adalah kuatnya budaya silaturahim. Setelah menunaikan salat Id, masyarakat biasanya melanjutkan hari raya dengan berkunjung ke rumah keluarga, saudara, dan tetangga untuk saling memaafkan.
Ia menyebut bahwa suasana seperti ini menjadi kekayaan sosial sekaligus budaya Islam yang hidup di Indonesia. Di banyak tempat, Idulfitri tidak hanya menjadi perayaan individual, tetapi hadir sebagai peristiwa kolektif yang menyatukan banyak lapisan masyarakat.
“Idulfitri di Indonesia bisa dikatakan yang merayakan itu seluruh bangsa. Nah, ini yang tidak banyak di negara-negara lain. Karena di Idul Fitri ini menjadi waktu yang khas dan khusus agar bisa bersilaturahim,” ujar Agus.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Idulfitri di Indonesia tidak hanya berhenti pada makna spiritual setelah menjalankan ibadah Ramadan, tetapi juga melahirkan energi sosial yang besar. Tradisi berkumpul bersama keluarga dan kerabat telah menjadi bagian dari identitas perayaan Islam di Indonesia.
Dalam konteks ini, silaturahim bukan hanya kebiasaan turun-temurun, tetapi juga media memperkuat hubungan kemanusiaan. Di tengah kehidupan modern yang sering membuat hubungan antarmanusia menjadi renggang, Idulfitri justru menghadirkan ruang untuk kembali mendekatkan hati.
Silaturahim Menjadi Jalan Membangun Persatuan
Agus menegaskan bahwa silaturahim tidak boleh dipahami sebatas aktivitas saling datang dan berjabat tangan. Lebih dari itu, tradisi ini mengandung nilai besar untuk membangun kembali persatuan, kebersamaan, dan harmoni di tengah masyarakat.
Menurutnya, budaya silaturahim yang berkembang saat Idulfitri merupakan cerminan nilai-nilai Islam yang menekankan kasih sayang, penghormatan, dan persaudaraan. Karena itu, Idulfitri semestinya dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang serta menguatkan kembali solidaritas sosial.
“Tentu ini menjadi tradisi yang berdasar nilai-nilai Islam yang penting untuk kita jadikan sebagai media membangun kembali budaya Islam yang ada di Indonesia. Ini juga membuktikan bahwa betapa kuatnya pengaruh peradaban dan tradisi Islam di Indonesia,” jelasnya.
Pandangan ini memperlihatkan bahwa kekuatan Idulfitri tidak hanya terletak pada simbol-simbol perayaan, melainkan pada nilai yang dikandungnya. Ketika masyarakat menjadikan silaturahim sebagai jalan membangun kebersamaan, maka Idulfitri berfungsi sebagai kekuatan budaya yang meneguhkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Bagi lingkungan akademik seperti Fakultas Agama Islam Umsida, pesan ini relevan untuk terus dihidupkan. Tradisi keislaman tidak cukup dipahami pada level pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan dalam sikap sosial yang menebarkan kedamaian, penghormatan, dan persatuan di tengah perbedaan.
Menghormati Perbedaan Jadi Esensi Kedewasaan
Lebih lanjut, Agus mengingatkan bahwa makna silaturahim harus diwujudkan dalam sikap saling menghormati, terutama ketika terdapat perbedaan pandangan dalam momentum Idulfitri. Perbedaan, menurutnya, merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat.
Yang menjadi persoalan bukan adanya perbedaan, tetapi cara menyikapinya. Ia menegaskan bahwa setelah silaturahim terjalin, tidak boleh ada lagi sikap saling menghujat, saling dengki, atau mempertajam perpecahan. Kedewasaan dalam menghadapi perbedaan justru menjadi ukuran sejauh mana nilai Idulfitri benar-benar dihayati.
“Maka setelah silaturahim, tidak boleh lagi ada saling menghujat, saling dengki, dan perbedaan itu harus bisa dihadapi dengan dewasa. Tentu tidak semua kita ini bisa berpandangan sama, namun kita harus menghormati,” ucap Agus.
Di akhir pesannya, Agus menyimpulkan bahwa Idulfitri, khususnya melalui tradisi silaturahim, merupakan nilai penting dalam membangun budaya Islam yang rahmatan lil alamin. Semangat saling memaafkan dan memuliakan sesama manusia tidak semestinya berhenti pada hari raya, tetapi harus terus hidup dalam keseharian.
Baca Juga: Mengapa 10 Hari Terakhir Ramadan Menjadi Momentum Terbaik untuk Beribadah
“Disinilah esensi sebenarnya dari silaturahim, bagaimana umat muslim saling berkumpul, serta saling memuliakan sebagaimana kita dimuliakan. Selamat Idul Fitri, Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin,” pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.org.id


























