Fai.umsida.ac.id — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menghadirkan Prof Ahmad Muttaqin MAg MA PhD sebagai pemateri sesi pagi Kajian Ramadan 1447 Hijriah pada Kamis, 26 Februari 2026 di Auditorium K H Ahmad Dahlan Kampus 1 Umsida.
kegiatan ini diikuti jajaran struktural FAI Umsida bersama dosen, pimpinan unit, dan tenaga kependidikan, untuk memperkuat arah kebijakan peningkatan mutu dan reputasi PTMA melalui tata kelola, penguatan SDM, kurikulum adaptif, riset berdaya saing, layanan prima, serta transformasi digital berbasis data.
Tantangan Global dan Kebutuhan Budaya Mutu
Dalam paparan bertajuk “Strategi Peningkatan Mutu dan Reputasi PTMA,” Prof Ahmad Muttaqin menjelaskan bahwa perguruan tinggi menghadapi tantangan global yang makin kompleks. Ia menyinggung disrupsi AI, tuntutan akreditasi, serta kompetisi reputasi internasional yang menuntut kampus bergerak lebih cepat dan lebih sistematis.
Di hadapan peserta kajian yang mencakup struktural FAI Umsida, ia memberikan penekanan bahwa mutu tidak boleh dipahami sekadar capaian administratif. Mutu harus menjadi budaya yang hidup dalam keseharian institusi, mulai dari cara memimpin, cara mengelola layanan, hingga cara merawat ekosistem akademik.
“Mutu adalah budaya, bukan sekadar target, apalagi gimmick,” tegasnya.
Penekanan ini menjadi kritik sekaligus arahan. Jika mutu diperlakukan hanya sebagai target, kampus mudah tergoda jalan pintas: fokus pada angka, laporan, atau simbol. Sebaliknya, jika mutu menjadi budaya, ia menuntut konsistensi, disiplin, dan keterlibatan semua pihak sebagai satu sistem.
Pilar Reputasi PTMA dari Tata Kelola hingga AIK
Prof Ahmad Muttaqin menyebut reputasi tidak hadir dari satu faktor tunggal. Ia menekankan pentingnya tata kelola yang baik, SDM unggul, serta kurikulum adaptif berbasis Outcome Based Education (OBE). Selain itu, riset yang berdaya saing dan layanan prima menjadi simpul penting yang menentukan kepercayaan publik.
Di sisi lain, penguatan nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) disebut sebagai fondasi, terutama ketika kampus membawa misi Islam berkemajuan. Bagi peserta dari struktural FAI Umsida, bagian ini menjadi krusial karena AIK bukan pelengkap, melainkan penyangga identitas dan arah moral institusi.
Dalam kerangka Islam berkemajuan, mutu dan reputasi tidak cukup dimaknai sebagai unggulnya angka, tetapi juga unggulnya karakter dan integritas. Itu sebabnya, setiap pembenahan tata kelola perlu bertaut dengan nilai, bukan justru mengorbankan nilai demi mengejar pengakuan.
Transformasi Smart Campus dan Keberanian Naik Kelas
Di era digital, Prof Ahmad Muttaqin menekankan perlunya transformasi menuju smart campus serta pengambilan keputusan berbasis data. Ia mengingatkan bahwa digitalisasi bukan sekadar mengganti proses manual menjadi aplikasi, melainkan mengubah cara berpikir institusi: lebih presisi, lebih cepat, dan lebih terukur.
Ia juga menyerukan keberanian institusi untuk “naik kelas” dengan cara membangun sinergi seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, pencapaian reputasi membutuhkan keberanian mengambil langkah yang lebih tinggi dengan kerja kolektif, bukan kerja individual yang terputus-putus.
“Kita tidak boleh menurunkan prestasi, harus naik dengan cara audacity to flight higher, karena nekat itu akan menemukan jalan yang lebih tinggi yang tentunya membutuhkan sinergi seluruh stakeholders,” ujarnya.
Bagi struktural FAI Umsida, pesan ini relevan sebagai dorongan memperkuat peran fakultas dalam mendukung mutu universitas. Kenaikan kelas institusi menuntut fakultas memastikan layanan akademik rapi, budaya riset menguat, pembinaan AIK konsisten, dan sinergi antarunit berjalan nyata.
Sesi strategi peningkatan mutu dan reputasi ini menjadi pijakan awal Kajian Ramadan 1447 H. Forum ini menegaskan bahwa penguatan spiritual Ramadan dapat berjalan seiring dengan penguatan profesionalisme kelembagaan, sehingga Islam berkemajuan hadir sebagai orientasi nilai sekaligus agenda kerja.
Sumber: Rilis Umsida.ac.id, Kajian Ramadan 1447 H, 26 Februari 2026.


























