Fai.umsida.ac.id – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Irji’ Ulchaq, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) semester 4 asal Pasuruan, sukses meraih juara 1 kategori 30 juz dalam Final Round of the International Hifz Qur’an Competition among Students yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Riau pada 12 Maret 2026 di Pekanbaru.
Baca Juga: Buktikan Kualitas Unggul, Mahasiswa FAI Umsida Sabet Juara Nasional Lagi
Dalam laporan resmi dewan juri, Ketua Hima PBA Umsida ini mencatat skor 97,5 dan menempati peringkat tertinggi di antara peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Capaian ini mi menjadi kebanggaan bagi FAI Umsida sekaligus menegaskan hasil pembinaan keislaman yang didukung tim DAIK (Direktorat Al-Islam dan Kemuhammadiyahan) Umsida.
Irji’ mengaku sempat tidak menyangka bisa langsung menjadi juara pada pengalaman pertamanya mengikuti lomba tahfizh kategori 30 juz. “Jujur agak kaget karena ini pertama kalinya ikut lomba kategori 30 juz dan langsung juara 1,” ujarnya.
Hafalan dibangun sejak kecil dan dijaga dengan konsistensi
Kader IMM Averroes ini menuturkan bahwa ia mulai menghafal Al-Qur’an sejak usia sekitar tujuh tahun. Pada masa awal, ia menghafal dengan cara mendengar lalu menirukan. Proses itu berlanjut dengan setoran hafalan secara bertahap hingga berhasil menuntaskan 30 juz pada usia 14 tahun. Dengan kata lain, kemenangan ini bukan loncatan mendadak, melainkan hasil akumulasi dari kebiasaan panjang yang dipelihara sejak usia dini.
“Saya mulai menghafal dari usia 7 tahunan dengan mendengar dan menirukan, dan kemudian menyetorkan hafalan sekaligus tuntas 30 juz di usia 14 tahun,” tuturnya.
Menariknya, Irji’ tidak menganggap dirinya melakukan persiapan istimewa menjelang lomba. Ia justru menekankan bahwa dirinya hanya melanjutkan ritme yang sudah terbentuk sebelumnya. Ini poin yang sering diabaikan. Banyak orang ingin hasil besar, tetapi tidak tahan membangun kebiasaan harian yang membosankan. Dalam tahfizh, konsistensi murajaah justru lebih menentukan daripada latihan dadakan menjelang kompetisi.
“Sebenarnya tidak ada effort khusus sebelum persiapan lomba, hanya meneruskan konsistensi yang sudah saya bangun sebelum ada info lomba,” katanya.
Dalam proses menuju perlombaan, Irji’ juga mendapatkan dukungan pembinaan dari tim DAIK Umsida. Peran ini perlu disebut jelas karena prestasi mahasiswa di ajang internasional tidak lahir dari ruang kosong. Ada pendampingan, arahan, dan penguatan dari kampus yang ikut membentuk kesiapan peserta. Maka prestasi ini bukan hanya kemenangan individu, tetapi juga representasi dari pembinaan Al-Islam yang berjalan di lingkungan Umsida, khususnya di FAI dan PBA.
Menyeimbangkan murajaah kuliah, organisasi dan aktivitas Ramadan
Tantangan terbesar Irji’ selama menjaga hafalan dan menghadapi lomba bukan sekadar pada aspek teknis membaca atau mengingat ayat. Tantangan utamanya justru ada pada pembagian waktu. Sebagai mahasiswa PBA semester 4, ia harus menata ritme antara murajaah, organisasi, dan tugas kuliah. Situasi itu menjadi lebih padat karena kompetisi berlangsung di bulan Ramadan, saat kegiatan ibadah dan keterlibatan sosial keagamaan juga meningkat.
“Tantangan terbesar bagi saya adalah membagi waktu antara muraja’ah, organisasi dan mengerjakan tugas. Ditambah, di bulan Ramadhan juga banyak kegiatan membantu masjid, imam Tarawih dan kultum,” ungkapnya.
Saat ditanya soal kunci keberhasilan, Irji’ menjawab dengan nada rendah hati. Ia tidak menonjolkan usahanya secara berlebihan, melainkan menekankan pentingnya doa dari orang tua, dosen, dan teman-teman, serta menjaga istiqamah ibadah selama Ramadhan.
“Dari segi usaha, jujur tidak ada apa apanya. Tapi saya terus menerus meminta doa dari orang tua, dosen dan teman-teman. Juga selalu menjaga keistiqomahan ibadah selama bulan Ramadhan serta sebisa mungkin menghindari hal-hal yang melenakan,” tuturnya.
Ia juga menyebut bahwa pihak yang paling berperan dalam perjalanan ini adalah orang tua, dosen pembimbing, dan teman-teman PBA. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan tidak lahir sendirian. Ada keluarga yang menopang, ada dosen yang membimbing, ada lingkungan prodi yang menguatkan, dan ada tim DAIK yang membantu persiapan lomba. Jika unsur-unsur itu tidak bekerja, hasil akhirnya bisa sangat berbeda.
Prestasi yang menguatkan identitas Qurani FAI Umsida
Bagi Irji’, kemenangan ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar menjadi juara. Ia memandang kompetisi di bulan Ramadhan sebagai ruang untuk merasakan nikmatnya ibadah, doa, dan kedekatan kepada Allah. Karena itu, prestasi yang diraihnya justru memperbesar rasa syukur, bukan rasa puas yang berlebihan.
“Saya rasa kompetisi yang diadakan di bulan Ramadhan adalah ajang untuk merasakan nikmatnya ibadah. Yang mana ketika di bulan Ramadhan, saya terus menerus berdoa kepada Allah untuk kesuksesan saya dan lomba ini, setelah mendapatkan juara ini, saya merasakan rasa syukur yang begitu besar,” katanya.
Pandangan seperti ini membuat prestasi Irji’ punya bobot lebih. Ia tidak membaca kemenangan sebagai hasil personal semata, tetapi sebagai bagian dari perjalanan ibadah dan evaluasi diri. Itu juga terlihat dari rencananya setelah lomba. Ia menilai ajang ini sebagai sarana evaluasi atas kekurangan yang masih ada sebelum dan sesudah bertanding, sekaligus sebagai penumbuh rasa percaya diri untuk mengikuti lomba-lomba tahfizh berikutnya.
Kepada generasi muda, Irji’ menyampaikan pesan yang sederhana tetapi sangat kuat. “Teruslah dekat dengan Alquran, karena semua hal yang berdekatan dengan Alquran pasti mulia.”
Pesan ini relevan untuk mahasiswa hari ini yang hidup di tengah distraksi tinggi. Kedekatan dengan Al-Qur’an bukan urusan simbolik, tetapi sumber arah, ketenangan, dan kualitas diri. Prestasi Irji’ menjadi bukti bahwa mahasiswa PBA FAI Umsida tidak hanya mampu belajar di ruang kuliah, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas unggul dalam kompetisi keislaman di level internasional.
Capaian ini pada akhirnya menguatkan identitas Program Studi Pendidikan Bahasa Arab dan FAI Umsida sebagai ruang tumbuh mahasiswa yang tidak hanya kuat dalam akademik dan bahasa, tetapi juga kokoh dalam nilai Al-Islam.
Baca Juga: Bisnis Tukar Uang Saat Lebaran Jadi Ide Perdagangan
Dukungan dari tim DAIK Umsida dalam persiapan lomba juga memperlihatkan bahwa pembinaan keislaman di kampus dapat melahirkan prestasi yang nyata, terukur, dan membanggakan.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi


























