Fai.umsida.ac.id- Mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Yusuf Naufal Falih, menorehkan prestasi membanggakan di bidang nonakademik.
Baca Juga: Atlet Umsida Bawa Pulang 3 Medali Sekaligus di Ajang SLC Cup 2026
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) semester 2 itu berhasil meraih medali emas pada kategori tanding dewasa putra kelas B dalam ajang Indonesia Pencak Silat Paku Bumi Open 14th Championship 2026 yang digelar di GOR Lembah UGM, Yogyakarta, pada 4–5 April 2026. Ajang ini menjadi panggung penting bagi para atlet muda untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya sekaligus mengharumkan nama almamater.
Keberhasilan Yusuf bukan datang secara tiba-tiba. Di balik raihan emas itu, ada proses latihan panjang, perjuangan melawan cedera, serta komitmen kuat untuk tetap menyeimbangkan prestasi olahraga dengan tanggung jawab utama sebagai mahasiswa. Baginya, kemenangan ini bukan sekadar soal podium, melainkan buah dari kesungguhan, disiplin, dan nilai-nilai spiritual yang terus dijaga selama perjalanan sebagai atlet Tapak Suci.
Berawal dari Tapak Suci sejak SMP
Yusuf menuturkan bahwa perjalanannya di dunia pencak silat telah dimulai sejak duduk di bangku SMP. Namun pada masa itu, ia mengaku belum benar-benar menekuni cabang olahraga tersebut secara serius. Minatnya kembali tumbuh saat memasuki dunia perkuliahan dan bertemu dengan lingkungan yang mendukung untuk berkembang.
“Saya mengikuti Tapak Suci sejak bangku SMP, tetapi saat itu belum terlalu menekuni bidang ini. Ketika kuliah, saya mulai latihan kembali bersama teman-teman dan kakak tingkat. Melihat lingkungan dan perkembangan yang semakin meningkat, saya memutuskan untuk kembali menekuni pencak silat,” ujarnya.
Keputusan itu menjadi titik balik bagi Yusuf. Ia tidak hanya kembali berlatih, tetapi juga mulai membangun target yang lebih jelas dalam dunia pertandingan. Meski terbilang masih relatif baru dalam pengalaman kompetitif, ia tidak ingin menjadikan status “newbie” sebagai alasan untuk ragu berkembang. Justru dari situ muncul dorongan untuk membuktikan bahwa keberhasilan dapat diraih oleh siapa saja yang serius menjalani proses.
Ajang Paku Bumi Open 14th 2026 sendiri dikenal sebagai salah satu kejuaraan pencak silat bergengsi yang mempertemukan banyak atlet dari berbagai daerah. Karena itu, medali emas yang diraih Yusuf menjadi capaian berarti, baik untuk dirinya secara pribadi maupun bagi FAI Umsida sebagai institusi yang terus mendukung pengembangan potensi mahasiswa.
Disiplin Latihan di Tengah Ramadan dan Cedera
Dalam menghadapi kompetisi ini, Yusuf menjelaskan bahwa persiapan telah dimulai jauh hari sebelum pertandingan berlangsung. Program latihan disusun secara terjadwal dan terarah oleh bidang bina prestasi, mencakup latihan fisik, teknik, mental, hingga penguasaan gelanggang.
“Persiapan dimulai jauh hari sebelum event berlangsung. Latihan terdiri dari fisik, teknik, mental, dan penguasaan gelanggang yang sudah terjadwal dan dirancang rapi oleh pengurus bidang bina prestasi,” katanya.
Ia mengakui, proses persiapan tidak sepenuhnya berjalan mudah. Salah satu tantangan utama datang karena latihan berbarengan dengan bulan Ramadan. Namun, menurut Yusuf, kondisi itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menurunkan kualitas persiapan. Ia tetap berusaha menjaga progres latihan sambil menempatkan kuliah sebagai kewajiban utama.
“Latihan bukanlah alasan untuk tidak masuk kelas,” tegasnya.
Selain itu, Yusuf juga harus menghadapi tantangan fisik berupa cedera jari kelingking yang belum pulih sepenuhnya saat proses seleksi menuju Paku Bumi Open. Cedera tersebut sempat membuat pergerakannya tidak seleluasa biasanya dan menjadi pertimbangan serius untuk tetap turun bertanding. Namun dengan pertimbangan matang, kesungguhan, serta doa, ia akhirnya mantap untuk tetap tampil.
Baginya, tantangan terberat justru bukan lawan di arena, melainkan melawan rasa malas untuk terus berlatih secara konsisten. Ia meyakini bahwa latihan adalah bentuk tanggung jawab seorang atlet terhadap target yang ingin dicapai. Prinsip itulah yang kemudian membawanya bertahan dalam proses hingga akhirnya berdiri di podium juara.
Bawa Nilai Iman Akhlak dan Semangat Umsida
Yusuf menegaskan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Ia menyampaikan terima kasih kepada kampus yang telah memfasilitasi kebutuhan lomba, mulai dari anggaran, transportasi, hingga pembinaan. Ia juga menyebut peran pelatih, pengurus, keluarga, teman, dan orang-orang terdekat yang terus memberi dukungan selama persiapan hingga pertandingan berlangsung.
“Semua elemen sangat berpengaruh terhadap keberhasilan saya dalam meraih medali emas ini. Mulai dari pihak kampus, pelatih, pengurus, keluarga, teman-teman, hingga orang-orang terdekat saya, semuanya sangat mendukung,” ujarnya.
Lebih jauh, Yusuf menekankan bahwa pencak silat yang ia tekuni tidak dapat dipisahkan dari nilai spiritual. Ia mengingat semboyan Tapak Suci, “Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah,” sebagai landasan penting bagi atlet untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an dan as-Sunnah. Menurutnya, konsistensi, etika, dan karakter harus dijaga karena atlet tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga kontingen, almamater Umsida, dan FAI.
Ke depan, Yusuf berharap bisa tampil lebih baik pada event-event berikutnya serta mempertahankan hasil yang telah diusahakan selama ini. Ia juga mengajak mahasiswa lain untuk tidak ragu mencoba bidang nonakademik, khususnya pencak silat dan Tapak Suci, sebagai ruang untuk berkembang sekaligus melestarikan budaya bangsa.
Baca Juga: Mahasiswa FAI Umsida Borong Medali di Paku Bumi Open 2026
Bagi Yusuf, keberhasilan tidak hanya diukur dari medali yang dibawa pulang, tetapi juga dari pengalaman, pelajaran, dan nilai positif yang diperoleh dalam setiap event. Pesan itu pula yang ia bawa pulang dari Yogyakarta: bahwa proses, doa, dan ketekunan akan selalu menemukan jalannya menuju hasil terbaik.(Akhmad Hasbul Wafi)

























