Fai.umsida.ac.id — Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FAI Umsida), Dr Ida Rindaningsih MPd, menegaskan pentingnya memahami halal lifestyle sebagai nilai kehidupan yang lebih luas dalam seminar internasional yang digelar FAI Umsida.
Baca Juga: Halal Voyage Pererat Kolaborasi FAI Umsida dan USIM
ini disampaikan pada ruang akademik lintas negara bertajuk Halal Lifestyle in the Era of Society 5.0: Bridging Faith, Food, and Education pada Selasa (26/5/2026) di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kampus 1 Umsida
Dalam pembukaan kegiatan, Dr Ida menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra, dosen, sekolah, dan peserta yang hadir. Menurutnya, kehadiran berbagai pihak menunjukkan bahwa isu halal lifestyle tidak hanya menjadi perhatian lembaga pendidikan Islam, tetapi juga menjadi kebutuhan bersama dalam membangun masyarakat yang memiliki arah moral dan spiritual yang kuat.
“Konsep halal tidak lagi dimaknai sebatas makanan, tetapi menjadi nilai kehidupan yang mencakup pendidikan, budaya, ekonomi, dan peradaban,” ujarnya.
Halal Lifestyle Menjadi Isu Strategis Pendidikan Islam
Dr Ida menilai tema halal lifestyle sangat relevan dengan kondisi masyarakat modern. Perkembangan teknologi yang cepat, perubahan gaya hidup, serta derasnya arus informasi membuat manusia tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual. Masyarakat juga membutuhkan fondasi spiritual dan moral agar mampu mengambil keputusan secara bijak.
Menurutnya, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Pendidikan tidak hanya bertugas mentransfer ilmu, tetapi juga membangun kesadaran nilai, karakter, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, pembahasan halal lifestyle perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yakni sebagai bagian dari upaya membentuk generasi yang berilmu, beriman, dan memiliki kepekaan terhadap perubahan zaman.
Ia menjelaskan bahwa halal dalam kehidupan modern tidak boleh dipahami secara sempit. Halal tidak hanya berbicara tentang produk konsumsi, tetapi juga berkaitan dengan cara berpikir, etika bermuamalah, budaya kerja, tata kelola ekonomi, hingga arah pembangunan peradaban.
Dengan cara pandang tersebut, FAI Umsida ingin menghadirkan forum akademik yang tidak berhenti pada pembahasan normatif, tetapi juga mendorong dialog ilmiah tentang bagaimana nilai-nilai Islam dapat diterapkan dalam realitas sosial yang terus bergerak.
FAI Umsida Dorong Dialog dan Kolaborasi Lintas Negara
Melalui seminar internasional ini, Dr Ida berharap FAI Umsida dapat memperkuat perannya sebagai ruang perjumpaan gagasan lintas negara. Ia menilai kolaborasi akademik menjadi kebutuhan penting agar pendidikan Islam tidak tertinggal dalam merespons isu-isu global.
Seminar ini juga menjadi bagian dari ikhtiar FAI Umsida dalam membangun jejaring keilmuan yang lebih luas. Melalui forum seperti ini, dosen, mitra, lembaga pendidikan, dan peserta dapat saling bertukar pengalaman, riset, serta praktik baik dalam mengembangkan pendidikan Islam.
“Ia berharap seminar internasional tersebut dapat menjadi ruang dialog, kolaborasi, dan pertukaran gagasan lintas negara untuk menghadirkan pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan,” jelasnya.
Bagi Dr Ida, adaptif bukan berarti kehilangan identitas. Pendidikan Islam justru harus mampu membaca perubahan, tetapi tetap berpegang pada prinsip dasar Islam yang menekankan ilmu, akhlak, kemanusiaan, dan kemaslahatan. Inilah yang menjadi titik penting dalam penguatan halal lifestyle sebagai bagian dari budaya akademik dan sosial.
“Kami berharap konferensi ini membawa manfaat, melahirkan kerja sama yang berkelanjutan, dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun peradaban yang berilmu, beriman, dan berkemajuan,” ungkapnya.
Perkuat Konteks Internasionalisasi Kampus
Dalam kegiatan yang sama, Rektor Umsida, Dr Hidayatulloh MSi, turut memberikan penguatan mengenai perkembangan dan reputasi Umsida sebagai perguruan tinggi yang terus bergerak menuju kualitas akademik dan jejaring internasional.
Ia memperkenalkan sejumlah capaian Umsida, mulai dari penguatan kualitas program studi, reputasi institusi, hingga prestasi nasional dan internasional. Beberapa capaian tersebut antara lain klasterisasi perguruan tinggi kategori Mandiri versi Diktisaintek, Gold Winner Sinta Score PTS, Gold Winner Pengabdian kepada Masyarakat, serta capaian dalam UI GreenMetric dan Times Higher Education Impact Ranking SDGs.
“Alhamdulillah, Umsida terus berkembang tidak hanya dari sisi jumlah program studi, tetapi juga kualitas akademik dan reputasi institusi,” tuturnya.
Dr Hidayatulloh menegaskan bahwa internasionalisasi menjadi bagian penting dari pengembangan Umsida. Melalui seminar internasional, kampus dapat memperkuat jejaring global sekaligus memperluas kontribusi akademik dalam isu-isu strategis, termasuk halal lifestyle.
Baca Juga: Tips Mengolah Daging Kurban agar Tetap Sehat
Ia juga menilai gaya hidup halal kini semakin diminati masyarakat dunia, termasuk kalangan nonmuslim. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam memiliki daya tarik universal, terutama ketika dipahami sebagai prinsip hidup yang bersih, sehat, etis, dan bertanggung jawab.
“Sekarang gaya hidup Islam tidak hanya disukai umat Islam. Orang non muslim pun mulai banyak yang menyukai gaya hidup halal,” katanya.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi


























