Fai.umsida.ac.id – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (HIMA PAI FAI Umsida) menggelar Seminar Nasional bertajuk Optimalisasi Pemahaman Perkembangan dan Karakter ABK Sebagai Dasar Penerapan Pendidikan Inklusif pada Jumat (22/5/2026) di Aula KH Mas Mansyur Lantai 7 Kampus 1 Umsida.
Baca Juga: Halal Voyage Pererat Kolaborasi FAI Umsida dan USIM
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut diikuti oleh 50 peserta. Seminar ini menghadirkan Alvie Syarifa, M.Psi., Psikolog sebagai panelis dan dipandu oleh Aisy Aunul Irsad sebagai moderator.
Melalui kegiatan ini, HIMA PAI FAI Umsida berupaya memperkuat wawasan mahasiswa dan calon pendidik mengenai karakter Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sebagai bekal dalam menerapkan pendidikan inklusif di lingkungan pembelajaran.
Penguatan Wawasan Calon Pendidik Islam
Seminar nasional ini menjadi salah satu ruang akademik bagi mahasiswa PAI untuk memahami bahwa dunia pendidikan tidak hanya dihadapkan pada keragaman latar belakang peserta didik, tetapi juga keragaman kebutuhan belajar. Dalam konteks tersebut, pemahaman mengenai ABK menjadi penting agar calon pendidik mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih ramah, adil, dan tidak diskriminatif.
Ketua Pelaksana, Aliy Zulfikar, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menambah kesiapan mahasiswa dalam memahami kondisi peserta didik secara lebih utuh. Menurutnya, pendidikan inklusif membutuhkan kesadaran bahwa setiap anak memiliki potensi, tantangan, serta cara belajar yang berbeda.
“Melalui seminar ini, kami ingin peserta mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang perkembangan dan karakter ABK. Hal ini penting bagi mahasiswa PAI karena calon guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu memahami kebutuhan peserta didik,” ujar Aliy.
Ia menambahkan, seminar ini juga menjadi bentuk ikhtiar HIMA PAI FAI Umsida dalam menghadirkan kegiatan yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Terlebih, guru PAI memiliki peran strategis dalam membentuk nilai, akhlak, dan sikap peserta didik.
“Mahasiswa PAI perlu memiliki kepekaan sosial dan pedagogis. Pendidikan inklusif mengajarkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan ruang belajar yang menghargai kemampuan dan kebutuhannya,” tambahnya.
Memahami Karakter ABK Secara Lebih Utuh
Dalam pemaparannya, Alvie Syarifa, M.Psi., Psikolog menjelaskan pentingnya memahami perkembangan dan karakter ABK sebelum menentukan pendekatan pembelajaran. Pemahaman tersebut menjadi dasar agar guru tidak keliru dalam memberi perlakuan kepada peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus.
Menurutnya, pendidikan inklusif tidak cukup dipahami sebagai penerimaan ABK di ruang kelas. Lebih jauh, pendidikan inklusif menuntut kesiapan guru, lingkungan, serta sistem pembelajaran agar mampu memberikan dukungan yang sesuai bagi setiap peserta didik.
“Anak berkebutuhan khusus perlu dipahami dari tahap perkembangan, karakter, dan kebutuhan belajarnya. Dengan pemahaman yang tepat, guru dapat menentukan pendekatan yang lebih sesuai dalam proses pembelajaran,” jelas Alvie.
Ia juga menekankan bahwa hambatan belajar tidak selalu berasal dari anak. Dalam banyak situasi, hambatan justru muncul karena lingkungan belajar belum mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan peserta didik. Karena itu, guru perlu bersikap adaptif, sabar, komunikatif, dan terbuka terhadap berbagai strategi pembelajaran.
Materi tersebut mendapat perhatian dari peserta. Mereka tidak hanya menerima pemaparan teoritis, tetapi juga diajak melihat bagaimana pemahaman terhadap ABK dapat diterapkan dalam praktik pendidikan. Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator.
Aisy Aunul Irsad selaku moderator menyampaikan bahwa pembahasan mengenai ABK perlu terus diperluas, khususnya di kalangan mahasiswa calon guru. Menurutnya, pendidikan inklusif harus dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan profesional seorang pendidik.
“Diskusi seperti ini penting karena calon pendidik perlu memahami realitas peserta didik di lapangan. Pendidikan inklusif tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga sikap empati, kesiapan mendampingi, dan kemampuan menciptakan ruang belajar yang aman,” ungkapnya.
FAI Umsida Perkuat Komitmen Pendidikan Humanis
Kegiatan seminar nasional ini sejalan dengan komitmen Fakultas Agama Islam Umsida dalam mendorong lahirnya calon pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial. Bagi mahasiswa PAI, pemahaman terhadap pendidikan inklusif menjadi bekal penting dalam menjalankan peran sebagai guru yang humanis dan responsif.
Pendidikan Agama Islam memiliki hubungan erat dengan nilai kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar penting dalam membangun pembelajaran yang mampu menerima keberagaman peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus.
Melalui kegiatan ini, HIMA PAI FAI Umsida turut menunjukkan peran aktif organisasi mahasiswa dalam mendukung pengembangan kompetensi calon pendidik. Seminar tidak hanya menjadi agenda akademik, tetapi juga ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami bahwa pendidikan harus memberi kesempatan tumbuh bagi semua anak.
Aliy berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi peserta. Ia juga menegaskan bahwa pemahaman mengenai ABK perlu terus diperkuat agar mahasiswa PAI semakin siap menghadapi tantangan dunia pendidikan.
Baca Juga:
“Kami berharap seminar ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi bekal bagi peserta. Semoga mahasiswa PAI Umsida semakin siap menjadi calon pendidik yang peduli, inklusif, dan mampu memahami kebutuhan setiap peserta didik,” pungkasnya.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi


























