Halal Bihalal Jadi Jalan Merawat Ukhuwah Menurut UAH

Fai.umsida.ac.id-Bulan Syawal menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperkuat kembali hubungan antarsesama melalui tradisi halal bihalal.

Baca Juga: PKM FAI Camp Matangkan Proposal Menuju Seleksi Tingkat Universitas

Pesan ini ditekankan dalam pandangan Ustadz Adi Hidayat Lc MA, Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang memaknai halal bihalal bukan sekadar agenda berkumpul setelah Idulfitri, melainkan ikhtiar untuk mengurai kekusutan hati, memperbaiki relasi sosial, dan meneguhkan ukhuwah Islamiyah.

Pandangan tersebut relevan dibaca oleh civitas akademika Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FAI Umsida) pada momentum Syawal, terutama untuk meneguhkan kehidupan kampus yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Dalam pandangannya, UAH menempatkan halal bihalal sebagai kelanjutan dari pendidikan Ramadhan. Jika selama bulan puasa umat Islam dilatih menahan diri, menjaga lisan, dan memperbaiki ibadah, maka Syawal menjadi masa pembuktian apakah latihan itu benar-benar melahirkan perubahan dalam cara seseorang memperlakukan orang lain. Karena itu, halal bihalal tidak cukup dipahami sebagai tradisi tahunan yang berhenti pada salam, senyum, dan ucapan maaf, tetapi harus menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Halal bihalal bukan sekadar berjabat tangan dan saling mengucap maaf, tetapi upaya mengurai yang kusut dalam hubungan manusia,” demikian inti pandangan UAH yang menekankan substansi tradisi Syawal tersebut. Penegasan ini menunjukkan bahwa halal bihalal memiliki bobot ruhani dan sosial yang kuat, sebab ia mengajak umat Islam untuk tidak memelihara luka, prasangka, dan jarak yang dibiarkan terlalu lama.

Halal Bihalal Tidak Boleh Berhenti pada Seremonial

UAH mengingatkan bahwa salah satu masalah dalam kehidupan keagamaan hari ini adalah banyak orang menjalankan simbol, tetapi tidak menyentuh substansi. Hal yang sama dapat terjadi pada halal bihalal. Seseorang bisa menghadiri acara, bersalaman dengan banyak orang, bahkan tampak hangat di hadapan publik, tetapi setelah itu tetap menyimpan kebencian, mempertahankan ego, dan enggan memperbaiki hubungan yang rusak.

Cara pandang seperti ini perlu diluruskan. Dalam makna yang lebih dalam, halal bihalal justru hadir untuk menyelesaikan berbagai kekusutan yang terjadi dalam hidup manusia. Kekusutan itu bisa berbentuk renggangnya hubungan keluarga, konflik di lingkungan kerja, salah paham dalam organisasi, hingga kerasnya hati seseorang terhadap saudaranya sendiri. Karena itu, halal bihalal bukan sebatas tradisi sosial, tetapi sarana muhasabah sekaligus rekonsiliasi.

Inti dari opini UAH juga memperlihatkan bahwa setelah Ramadhan seorang Muslim tidak pantas kembali menjadi pribadi yang sama. Ramadhan telah melatih pengendalian diri, sedangkan Syawal menuntut pembuktian. Ukuran keberhasilan ibadah bukan hanya pada rutinitas ritual, tetapi juga pada akhlak yang tumbuh setelahnya. Jika seseorang semakin mudah meminta maaf, semakin ringan memaafkan, dan semakin hati-hati menjaga lisannya, maka di situlah terlihat bekas pendidikan Ramadhan.

“Kalau hati masih keras, relasi masih retak, dan lisan masih melukai, berarti yang berubah baru suasananya, belum jiwanya,” demikian gagasan yang dapat ditangkap dari penjelasan UAH mengenai esensi halal bihalal. Pesan ini penting karena menggeser fokus dari formalitas menuju pembenahan diri yang lebih jujur.

Jejak Muhammadiyah dalam Memaknai Silaturahmi

Pandangan UAH tentang halal bihalal juga menjadi menarik karena diletakkan dalam konteks Muhammadiyah. Dalam tradisi Muhammadiyah, silaturahmi bukan sekadar adat yang dipertahankan, tetapi bagian dari pembinaan umat dan penguatan dakwah. Karena itu, halal bihalal dapat dipahami sebagai sarana untuk menyatukan hati, menjernihkan komunikasi, dan memperkuat ukhuwah di atas dasar Al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam konteks ini, makna halal bihalal menjadi lebih luas. Ia bukan hanya momentum personal, tetapi juga energi sosial untuk membangun kehidupan bersama yang lebih sehat. Kampus, keluarga, organisasi, dan masyarakat membutuhkan budaya saling memaafkan serta kebiasaan menyelesaikan konflik secara dewasa. Tanpa itu, banyak relasi akan tampak baik di permukaan, tetapi rapuh di dalam.

Bagi lingkungan FAI Umsida, pesan ini memiliki relevansi kuat. Kampus Islam tidak cukup hanya melahirkan mahasiswa yang cakap secara akademik, tetapi juga pribadi yang mampu menjaga adab, menata emosi, dan merawat hubungan dengan sesama. Kehidupan kampus yang sehat lahir bukan hanya dari banyaknya kegiatan, tetapi juga dari budaya komunikasi yang jernih, lapang dada, dan bebas dari kebiasaan saling menjatuhkan.

Syawal dalam pandangan ini menjadi momentum yang sangat strategis. Ia mengingatkan bahwa ukhuwah tidak tumbuh otomatis, melainkan harus dirawat dengan kesadaran, kerendahan hati, dan keberanian untuk memperbaiki yang sempat rusak. Maka halal bihalal perlu dibaca bukan hanya sebagai tradisi setelah Lebaran, tetapi sebagai praktik pendidikan akhlak yang hidup dalam keseharian umat.

Syawal Harus Melahirkan Keputusan Nyata

Pada akhirnya, opini UAH mengarahkan umat Islam pada satu hal yang sangat praktis, yakni keberanian untuk mengambil langkah nyata setelah Idulfitri. Halal bihalal tidak akan bermakna jika hanya berhenti pada acara formal. Nilainya justru tampak ketika seseorang mulai menghubungi orang yang sempat dijauhi, meminta maaf kepada pihak yang pernah disakiti, dan berusaha menjahit kembali hubungan yang lama renggang.

Baca Juga: Soal Kasus Pekerja Kreatif, Dosen Umsida Beri Tips Kreator dalam Bekerja Sama dengan Klien

“Syawal seharusnya melahirkan hati yang lebih jernih, hubungan yang lebih sehat, dan langkah hidup yang lebih baik,” menjadi penegasan yang selaras dengan keseluruhan pandangan UAH. Dalam konteks inilah halal bihalal tidak berhenti sebagai budaya tahunan, tetapi naik menjadi akhlak sosial yang dibutuhkan umat.

Sumber: Muhammadiyah.or.id

Berita Terkini

Sapa Immawati IMM FAI Umsida Satukan Ukhuwah dan Kebersamaan
April 24, 2026By
Wakil Dekan FAI Umsida Tekankan Makna Kurikulum Merdeka bagi Guru PAI
April 23, 2026By
HIMA PAI Umsida Tanamkan Kepedulian Lingkungan di SDN Banjarpanji
April 22, 2026By
IMM FAI Umsida Gelar RTL Intelektualitas untuk Perkuat Kader yang Progresif
April 21, 2026By
Kaprodi S2 MPI Umsida : Workshop Kurikulum Merdeka Tingkatkan Kualitas Pendidikan
April 20, 2026By
Dekan FAI Umsida Tekankan Deep Learning dalam Pembelajaran PAI SD
April 17, 2026By
KKG PAI Sidoarjo dan S2 MPI Umsida Gelar Workshop Kurikulum Merdeka
April 15, 2026By
Taklukkan Lawan Berpengalaman, Yuhsin Raih Emas Paku Bumi Open 2026
April 14, 2026By

Prestasi

Taklukkan Lawan Berpengalaman, Yuhsin Raih Emas Paku Bumi Open 2026
April 14, 2026By
Diuji Mental, Fadlan Azmy Tetap Bawa Pulang Juara 2 Paku Bumi Open 2026
April 13, 2026By
Disiplin dan Fokus Antar Fitri Raih Juara 2 di Paku Bumi Open 2026
April 10, 2026By
Tertinggal Poin Tak Padamkan Semangat Ummu Hani Raih Juara di Paku Bumi Open 2026
April 9, 2026By
Latihan Konsisten Antar Dedi Juara 1 Paku Bumi Open 2026
April 8, 2026By
Cedera Tak Hentikan Yusuf Naufal Rebut Emas Pakubumi Open 2026
April 7, 2026By
Mahasiswa FAI Umsida Borong Medali di Paku Bumi Open 2026
April 5, 2026By
Berkah Ramadan, Mahasiswa FAI Umsida Juara 1 Tahfidz Internasional 30 Juz
March 14, 2026By

Penelitian

Dorong Kemandirian Ekonomi, Ibu-Ibu Aisyiyah Kenongo Dibekali Literasi Bisnis Syariah dan Teknologi AI
February 10, 2026By
Pameran Inovasi Berdampak
4 Inovasi FAI Umsida Tampil di Pameran Inovasi LLDIKTI Wilayah VII
November 25, 2025By
ghibah
Mahasiswa FAI Umsida Kembangkan Model Pengendalian Ghibah Syar’i untuk Bangun Budaya Etika Islami
October 16, 2025By
Abdimas FAI Umsida Kembangkan PAUD Aisyiyah Wonoayu melalui Model Flipped Classroom
May 6, 2025By
Tim Abdimas FAI Umsida Lakukan Pelatihan Marketing Untuk Memberdayakan Unit Usaha Wakaf Produktif
September 11, 2024By
Bahas Psikologi Belajar, Dosen FAI Umsida Lakukan Abdimas Internasional di Malaysia
September 4, 2024By
Abdimas Internasional di PCIM Malaysia, Dosen Pesya FAI UMSIDA Lakukan Literasi Keuangan Bersama PMI
September 3, 2024By
Para Orang Tua ABK Ikuti Sosialisasi Penelitian Website Theraphy Al-Qur’an Bersama PAI Umsida
September 2, 2024By