Fai.umsida.ac.id — Mahasiswa Program Studi S2 Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melaksanakan observasi ke Sanggar Bimbingan Kampung Pandan, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (20/5/2026).
Baca Juga: Kunjungan S2 MPI Umsida ke KBRI Kuala Lumpur Bahas Pendidikan Anak PMI
Kegiatan ini dilakukan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di luar negeri. Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa S2 MPI Umsida melihat secara langsung bagaimana lembaga pendidikan nonformal berperan dalam memberikan layanan belajar, pembinaan karakter, serta penguatan nilai keislaman bagi anak-anak Indonesia di Malaysia.
Mengenal Sanggar Bimbingan Kampung Pandan
Sanggar Bimbingan Kampung Pandan merupakan lembaga pendidikan nonformal yang diperuntukkan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia. Saat ini, terdapat 36 anak yang mengikuti kegiatan pembelajaran dan pembinaan di sanggar tersebut.
Keberadaan sanggar ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar agar anak-anak Indonesia yang tinggal di luar negeri tetap memperoleh hak pendidikan yang layak. Meskipun berada dalam keterbatasan, para peserta didik tetap mendapatkan ruang belajar yang mendukung perkembangan pengetahuan, karakter, dan nilai-nilai keislaman.
Sanggar Bimbingan Kampung Pandan berada di bawah Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Malaysia dan bernaung dalam koordinasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Sanggar ini dipimpin oleh Ustadz Ahmad bersama pengelola dan tenaga pendidik yang berkomitmen mendampingi anak-anak pekerja migran Indonesia.
Dalam kegiatan observasi tersebut, rombongan S2 MPI Umsida memperoleh informasi mengenai sistem pengelolaan sanggar, proses pembelajaran, pola pendampingan peserta didik, serta tantangan yang dihadapi dalam memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak pekerja migran.
Pendidikan Nonformal yang Menjawab Kebutuhan Anak PMI
Observasi ini memberikan gambaran bahwa pendidikan nonformal memiliki peran strategis dalam menjangkau anak-anak Indonesia yang berada dalam kondisi khusus. Tidak semua anak pekerja migran memiliki akses yang sama terhadap pendidikan formal. Karena itu, kehadiran sanggar bimbingan menjadi ruang penting untuk menjaga keberlanjutan belajar mereka.
Melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara sederhana namun terarah, Sanggar Bimbingan Kampung Pandan berupaya memberikan bekal pengetahuan dasar, pembinaan akhlak, dan penguatan identitas kebangsaan kepada peserta didik. Para pengelola juga berupaya menciptakan lingkungan belajar yang ramah, dekat dengan anak, dan sesuai dengan kondisi sosial mereka.
Kegiatan ini menjadi pengalaman akademik penting bagi mahasiswa S2 MPI Umsida. Mereka tidak hanya mempelajari manajemen pendidikan dalam ruang kelas, tetapi juga melihat langsung praktik pengelolaan pendidikan di tengah realitas masyarakat Indonesia di luar negeri.
Salah satu perhatian dalam observasi ini adalah bagaimana pendidikan dapat hadir secara adaptif. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses belajar formal di sekolah, tetapi juga sebagai usaha bersama untuk memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan berkembang.
“Observasi ini membuka pemahaman bahwa manajemen pendidikan tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal. Justru di ruang seperti Sanggar Bimbingan Kampung Pandan ini terlihat bagaimana kepedulian, kolaborasi, dan komitmen menjadi kunci agar anak-anak pekerja migran tetap dapat belajar,” ujar salah satu peserta kegiatan.
Tekankan Pentingnya Literasi Keuangan
Dalam kunjungan tersebut, Ninda Ardiani SE MSEI., turut memberikan penguatan mengenai pentingnya literasi keuangan bagi anak-anak dan pengelola sanggar. Materi ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pemahaman sederhana tentang pengelolaan uang sejak dini.
Menurutnya, literasi keuangan penting dikenalkan kepada anak-anak agar mereka memiliki kesadaran dalam membedakan kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, serta memahami pentingnya menggunakan uang secara bijak.
“Anak-anak perlu dikenalkan dengan literasi keuangan sejak dini melalui cara yang sederhana. Mereka bisa mulai belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, membiasakan menabung, serta memahami bahwa uang harus dikelola dengan tanggung jawab,” ujar Ninda Ardiani.
Ia menambahkan, literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung uang, tetapi juga membentuk karakter disiplin, hemat, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan proses pendidikan karakter yang selama ini dijalankan di Sanggar Bimbingan Kampung Pandan.
“Literasi keuangan bukan sekadar soal angka, tetapi juga pendidikan karakter. Ketika anak belajar mengatur uang, mereka juga belajar disiplin, sabar, dan bertanggung jawab atas pilihan yang mereka ambil,” tambahnya.
Kegiatan observasi ini menjadi bagian dari penguatan wawasan mahasiswa S2 MPI Umsida dalam memahami pengelolaan pendidikan Islam secara lebih luas. Melalui kunjungan ke Sanggar Bimbingan Kampung Pandan, mahasiswa melihat bahwa pendidikan bagi anak-anak pekerja migran membutuhkan kolaborasi banyak pihak, mulai dari organisasi masyarakat, tenaga pendidik, pemerintah, hingga perguruan tinggi.
Baca Juga: Snap and Style, Inovasi Bisnis Digital Mahasiswa Umsida yang Lolos P2MW 2026
Keberadaan sanggar ini membuktikan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak, tanpa memandang tempat tinggal maupun kondisi sosial ekonomi keluarganya. Dengan dukungan berbagai pihak, anak-anak pekerja migran Indonesia tetap memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan menatap masa depan yang lebih baik.
Penulis: Akhmad Hasbul Wafi


























